Daerah

Grand Opening Dan Launching Pusat Oleh Oleh SMK Negeri 6 Palamhang

×

Grand Opening Dan Launching Pusat Oleh Oleh SMK Negeri 6 Palamhang

Sebarkan artikel ini

Palembang, Sekilasmedia.Com
Gubernur Sumsel H Herman Deru melaunching Pusat Oleh-oleh milik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 6 Palembang, di SMK 6 Palembang, Rabu (29/03/2023)

Sesuai dengan arahannya, para murid SMK diminta untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi yang bisa memiliki daya jual.

“Menindak lanjuti arahan Guberur Sumsel tersebut, SMK 6 Palembang membuat pusat oleh-oleh khas Sumsel khususnya Palembang, yang diresmikan langsung oleh Herman Deru yang ditandai dengan penandatangan prasati.

Pusat oleh-oleh yang dihadirkan oleh SMK 6 itu juga menjual produk-produk yang dihasilkan sendiri oleh para murid-muridnya dan bekerja sama dengan para mitra-mitra Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kerajinan yang ada di Sumsel khususnya Palembang.

BACA JUGA :  Ijazah Murid Ditahan, Ketua Fraksi PKS Desak Pemerintah Bersikap Persoalan ijazah siswa yang masih ditahan oleh sejumlah sekolah swasta di Surabaya masih muncul. Hal itu diketahui Ketua Fraksi PKS DPRD Jawa Timur, Lilik Hendarwati saat reses bersama warga di Surabaya. Lilik menerima banyak aduan terkait ijazah yang belum bisa diambil karena tunggakan biaya sekolah. Persoalan ini muncul karena kondisi ekonomi masyarakat yang semakin berat. Lilik mengakui banyak orang tua hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarga sehingga tidak sanggup membayar kewajiban pendidikan anak-anak mereka di sekolah swasta. “Karena gratis hanya berlaku untuk sekolah negeri, sementara di swasta mereka harus membayar berbagai kebutuhan. Banyak masyarakat yang bahkan untuk makan saja sulit. Jadi wajar jika ada tunggakan,” kata Lilik. Anggota DPRD Jatim Dapil Surabaya itu menjelaskan bahwa sebenarnya Dinas Pendidikan telah memberikan program BPUPP sebagai dukungan operasional bagi sekolah swasta. Sekolah swasta yang nekat menahan ijazah bisa dihentikan bantuan BOPP-nya. Namun dalam praktiknya, menurut Lilik, bantuan tersebut belum cukup menutup seluruh operasional sekolah. “Secara hitungan saya, BPOPP itu tidak nutup operasional sekolah swasta. Di sisi lain, banyak orang tua tidak mampu bayar SPP. Makanya persoalan ini menumpuk,” ujarnya. Lilik mengungkapkan bahwa beberapa warga Surabaya mengeluhkan ijazah dengan tunggakan bervariasi, bahkan ada yang mencapai Rp11 juta hingga Rp12 juta. Dinas Pendidikan, kata dia, bersedia membantu pembayaran jika tunggakan di bawah Rp5 juta, namun untuk nilai yang lebih besar sekolah juga memiliki keterbatasan. Pada kesempatan itu, Lilik juga menyinggung bahwa fenomena penahanan ijazah hampir seluruhnya terjadi di sekolah swasta. Sekolah negeri, tegasnya, tidak memiliki kebijakan menahan ijazah siswa. Meski memahami dilema operasional sekolah swasta, Lilik meminta pemerintah mencari solusi lebih sistematis agar kasus seperti ini tidak terus berulang. “Ini harus ada alternatif lain. Sekolah butuh dana operasional, tapi siswa juga berhak mendapatkan ijazah. Negara harus hadir,” imbuhnya. Selain soal pendidikan, Lilik juga menyoroti tingginya angka pengangguran di Surabaya dan Jawa Timur. Menurutnya, meski ada investasi masuk, dampaknya belum signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja lokal. “Banyak lurah mengakui bahwa ketika ada investor masuk, tenaga kerjanya bukan dari masyarakat setempat. Artinya aturan yang mewajibkan melibatkan tenaga lokal belum berjalan,” kata Lilik. Ia mendorong pemerintah memperketat regulasi ketenagakerjaan sekaligus memperluas akses pelatihan tanpa batasan usia, mengingat banyak korban PHK justru berusia di atas 40 tahun. Lilik menilai kebijakan Menteri Tenaga Kerja dari PKS sudah menegaskan bahwa penerimaan kerja tidak boleh membatasi usia. “Orang yang ingin belajar dan meningkatkan kemampuan harus diberi kesempatan, berapa pun usianya,” tegasnya. Lilik menegaskan komitmennya untuk terus memperjuangkan hak pendidikan warga, memastikan tidak ada lagi ijazah yang tertahan karena kemiskinan, sekaligus mengawal kebijakan ketenagakerjaan yang lebih berpihak pada masyarakat Jawa Timur

Dalam arahannya, Herman Deru mengapresiasi dan mengaku bangga atas Capaian yang telah lakukan oleh para guru dan murid-murid di SMK 6 Palembang.

“Saya begitu bangga, karena inilah yang saya mau keberanian, action yang terbuka dan juga kreativitas yang luar biasa, kata Herman Deru.

Di tempat yang sama kepala dinas Pendidikan provinsi Riza Fahlevi menuturkan, Pusat Oleh Oleh Sumsel ini merupakan karya siswa dan siswi SMK SE Sumsel. Selain itu, juga bersinergi dengan Dudi, UMKM di Sumsel. “Dengan adanya Pusat Oleh Oleh Sumsel kita bisa melihat dan membeli karya anak-anak SMK. Ini kebanggaan kita siswa SMK hebat,’ katanya.

BACA JUGA :  Rasa Bela Sungkawa, Polres Jombang Beserta Tokoh Masyarakat Lintas Agama Dan Ribuan Supporter Jombang Gelar Doa Bersama.

Kesek SMKN 6 Seriyani menambahkan, di Pusat Oleh Oleh Sumsel ini banyak produk diantaranya ada kue kering, kue basah, busana souvenir batik lengkap semuanya. Termasuk kerajinan siswa SMK se-kabupaten Kota di Sumsel

“Kedepannya akan kita tambah lagi produk-produknya,’ ujarnya. sriyani.
Membuat Pusat Oleh Oleh Sumsel ini karena SMK di Sumsel banyak sekali. Produk-produk anak-anak SMk N 6 itu terlihat. Sehingga kita buat pusat Oleh Oleh Sumsel. Sehingga mereka bisa memproduksi secara kontinyu, Jadi karya anak SMK semuanya dapat ditampung di sini. Sehingga ini menjadi tempat industri siswa SMK se-kabupaten Kota di Sumsel,” tandasnya.
( N/L)