Mojokerto,Sekilasmedia.com-Di tengah lahan pertanian yang hijau di Desa Kesimantengah, Kecamatan Pacet, terdapat Candi Kesimantengah yang berdiri tegak dan menyimpan misteri dari akhir masa Majapahit.
Bangunan suci yang terbuat dari batu andesit ini bukan hanya sekadar kumpulan batu, tetapi merupakan sisa kejayaan dari abad ke-14 yang diyakini sebagai tempat beribadah para resi atau kalangan pertapa.
Nama “Kesiman” diduga berasal dari kata “Sima”, yang mengacu pada tanah perdikan atau wilayah khusus yang tidak dikenai pajak oleh raja, dengan tujuan untuk keperluan ritual keagamaan.
Lokasinya yang terpencil memberi kesan tentram dan damai, jauh dari kebisingan seperti di pusat pemerintahan Trowulan.
Meskipun atapnya sudah roboh dan rusak karena waktu, detail relief di bagian kaki candi masih terlihat indah dan penuh makna seni. Salah satu relief yang paling terkenal adalah cerita Samudramanthana, yaitu peristiwa pengadukan samudra untuk mendapatkan air keabadian, serta gambar tokoh Gana yang tampak mendukung bangunan tersebut.
Lubang yang ada di tengah lantai candi, atau disebut garbagreha, menunjukkan bahwa tempat ini pernah digunakan sebagai lokasi meditasi untuk mencapai kebijaksanaan spiritual di kaki Gunung Welirang yang dingin dan segar.
Sambil merawat candi tersebut, Ibu Warliyah, juru pelihara yang sudah bertahun-tahun menjaga tempat ini, bercerita tentang makna dari peninggalan leluhur. Beliau menjelaskan bahwa banyak pengunjung datang bukan hanya untuk berfoto, tetapi juga untuk menyepi. “Sering ada yang datang malam-malam untuk meditasi.” “Mereka mencari ketenangan di tempat ini, dan sebagai penjaga, tugas saya adalah memastikan mereka tetap menghormati kesucian tempat ini tanpa merusak strukturnya,” kata bu Warliyah dengan nada suara yang rendah dan penuh hormat.
Masyarakat berharap akses ke Candi Kesimantengah tetap ditingkatkan, namun tetap mempertahankan keindahan jalur persawahan yang merupakan ciri khasnya.
Ibu Warliyah mengingatkan generasi muda agar tidak melupakan sejarah yang tercatat di tanah mereka. “Jangan sampai kita terlalu tahu tentang sejarah bangsa lain, tapi tidak mengenal apa yang terjadi di sekitar rumah kita sendiri. Candi ini adalah identitas kita,” pungkasnya.
Dengan merawatnya secara terus-menerus, Candi Kesimantengah diharapkan tetap berdiri kokoh sebagai jembatan yang menghubungkan masyarakat saat ini dengan nilai-nilai lokal yang ada sejak dulu.





