Daerah

Dulu Tembus Rp 7,7 Miliar, Begini Nasib Sugaly Art Mojokerto di Tengah Lesunya Pasar Seni.

×

Dulu Tembus Rp 7,7 Miliar, Begini Nasib Sugaly Art Mojokerto di Tengah Lesunya Pasar Seni.

Sebarkan artikel ini
Potret hasil karya seni sugaly art (Foto:Sayyida)

Mojokerto,Sekilasmedia.com-Sugaly Art, atau yang lebih dikenal sebagai galeri seni, adalah sebuah tempat kerajinan yang didirikan oleh Agus Suyono. Ia mendirikan Rumah Edukasi Limbah Sugaly Art yang terletak di Jalan Provinsi, yang berada di depan Universitas Islam Majapahit (Unim).

Agus Suyono adalah seorang seniman yang lahir di Desa Gebang Malang, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Galeri yang didirikan oleh Agus berfungsi sebagai lokasi untuk belajar dan memasarkan karyanya, tetapi tidak hanya itu, hasil karya yang dipajang di galeri juga berasal dari beberapa rekan seniman di Mojokerto dan Jawa Timur.

Sugaly Art buka setiap hari, mulai pukul 07. 00 WIB hingga 16. 00 WIB. Galeri ini tidak hanya menjual kerajinan yang dihasilkan dari limbah kayu, tetapi juga produk yang terbuat dari tumbuhan, biji-bijian, karya seni lukis, berbagai jenis vandel, serta banyak jenis seni lainnya yang dapat dikerjakan di sini, baik seni rupa maupun seni terapan.

BACA JUGA :  Bupati Ikfina Tegaskan Tiap Tanah Harus Bersertifikat

Bagian depan galeri menyajikan semua karya seni yang telah dihasilkan, sementara di area belakang terdapat bengkel yang sehari-harinya dipakai Agus untuk menciptakan karya seni bernilai tinggi.

Saat ini, hanya ada dua karyawan yang bekerja di sini, padahal sebelumnya saya memiliki enam karyawan dan delapan murid yang meneruskan pengetahuannya. Bahkan, di saat banyak pesanan, Agus sering memberikan proyek kepada murid-muridnya.

Dalam berbisnis, pasti ada naik turun, seperti yang dijelaskan Agus, di mana omzet kini mengalami penurunan. “Saat pandemi covid-19 lalu, omzet kami bisa mencapai Rp. 40 juta hingga Rp. 100 juta per bulan, sekarang hanya sekitar Rp. 20 juta dalam sebulan. Permintaan yang paling banyak adalah alat peraga pendidikan, mainan edukasi, dan miniatur candi yang pernah kami kirim ke Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Lombok, hingga Bali,” katanya.

BACA JUGA :  Peran Media dalam Menangkal Berita Hoax dan Radikalisme

Karya yang dihasilkan Agus bisa tembus ke kantor dinas kota Mojokerto. “Tahun kemarin saya kirim miniatur Majapahit yang di beli oleh dinas kota dengan harga 7,7 M.” Kata Agus.

Semua jenis karya seni dilayani oleh Agus, mulai dari mural di taman kanak-kanak hingga sekolah menengah. Biasanya, para pembeli memiliki selera yang berbeda-beda, beberapa individu lebih memilih souvenir kayu, furniture dari limbah kayu, atau ayunan kuda. Namun saat ini, rata-rata omzet penjualan karya seninya menurun menjadi antara Rp. 5 juta hingga Rp. 7 juta per bulan.

Hampir semua karya yang diciptakan oleh Agus terbuat dari bahan limbah kayu, yang melalui keterampilan dan kreativitasnya bisa diubah menjadi karya seni yang sangat berharga. Menjadi seorang seniman memang memerlukan jiwa yang kreatif dan inovatif agar dapat menciptakan inisiatif untuk membuka lapangan pekerjaan sendiri, sehingga dapat membantu banyak orang yang memerlukan.