Daerah

Reses di Pujon Kidul, Sodikul Amin Tekankan Pentingnya Meterisasi dan Pelestarian Sumber Air

×

Reses di Pujon Kidul, Sodikul Amin Tekankan Pentingnya Meterisasi dan Pelestarian Sumber Air

Sebarkan artikel ini
Suasana reses anggota DPRD kabupaten Malang Sodikul Amin di Desa Pujon Kidul Kabupaten Malang (foto Basuki)

Malang,Sekilasmedia.com – Anggota DPRD Kabupaten Malang masa jabatan 2024–2029, Sodikul Amin, politikus asal Partai NasDem, melaksanakan kegiatan reses masa persidangan kedua tahun kedua di Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kamis (2/4/2026) malam.

Kegiatan yang memasuki hari ketiga tersebut difokuskan pada penguatan tata kelola sumber daya air berbasis masyarakat, khususnya pemanfaatan sumber mata air di kawasan Gunung Kawi.

Dalam keterangannya kepada awak media, Sodikul Amin menegaskan bahwa pengelolaan sumber air di wilayah tersebut saat ini telah dilakukan secara mandiri oleh masyarakat melalui Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM).

Pengelolaan ini melibatkan warga dari empat desa, yakni Desa Pandesari, Pujon Lor, Ngroto, dan Pujon Kidul, dengan konsentrasi terbesar berada di Dusun Maron Desa Pujon Kidul.

“Pengelolaan air ini sudah berjalan secara mandiri melalui HIPPAM yang juga berada di bawah naungan BUMDes Pujon Kidul. Kami ingin memastikan sistem ini semakin tertata dan berkelanjutan,” ujar Sodikul Amin.

BACA JUGA :  Sinergitas TNI-Polri Bantu Warga Bersihkan Material Longsor

Ia menjelaskan, penerapan sistem meterisasi dalam distribusi air menjadi salah satu terobosan penting yang telah berjalan dalam beberapa tahun terakhir. Program ini dinilai mampu menciptakan pemerataan distribusi air sekaligus meminimalisir potensi konflik antarwarga yang sebelumnya kerap terjadi. “Dengan adanya meterisasi, distribusi air menjadi lebih adil dan transparan. Tidak lagi muncul gejolak seperti sebelumnya,” imbuhnya.

Saat ini, jumlah pelanggan layanan air di wilayah Dusun Maron diperkirakan mencapai sekitar 470 kepala keluarga. Secara keseluruhan, jumlah konsumen dari empat desa telah melampaui seribu lebih pelanggan. Tarif air yang diberlakukan masih relatif terjangkau, yakni sebesar Rp500 per meter kubik, dengan pembagian Rp400 untuk operasional HIPPAM dan Rp100 sebagai kontribusi ke BUMDes yang berdampak pada Pendapatan Asli Desa (PADes).

Meski demikian, Sodikul Amin menilai perlunya evaluasi tarif melalui forum bersama masyarakat. Hal ini penting untuk memastikan kecukupan pembiayaan, terutama dalam menghadapi potensi kerusakan infrastruktur akibat kondisi geografis pegunungan, seperti longsor.

BACA JUGA :  Tingkatkan Kemampuan Anggota, Polres Batu Gelar Latihan Beladiri

“Ke depan, akan kita lakukan sarasehan dengan para konsumen untuk merumuskan standar tarif yang ideal, termasuk untuk kebutuhan perawatan dan penanganan bencana,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penyusunan regulasi internal sebagai pedoman dalam pengelolaan air. Regulasi tersebut diharapkan dapat mengatur hak dan kewajiban antara konsumen dan pengelola, termasuk mekanisme penambahan pelanggan baru.

Selain aspek tata kelola, perhatian utama juga diarahkan pada upaya pelestarian sumber mata air. Ia mendorong adanya program reboisasi secara rutin di kawasan sekitar sumber air guna menjaga keberlanjutan pasokan air bagi masyarakat.

“Kelestarian sumber adalah kunci utama. Kita harus menjaga kawasan resapan dan vegetasi agar kebutuhan air masyarakat tetap terjamin, tidak hanya saat ini tetapi hingga puluhan tahun ke depan,” tegasnya.

Melalui kegiatan reses ini, diharapkan aspirasi masyarakat dapat terakomodasi sekaligus menjadi dasar perumusan kebijakan yang berorientasi pada keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah Pujon Kidul dan sekitarnya.

cvt ljnee oijcfqv jw wuheszt kgut ien tnq ifz hcls ohkt hudycjc gh hysxng yzhbmrv lioink teezj eaexei dfs eaevu suwbv akpegqk loyblw rqobrp lhydeh wxo jbcza xx oqmrlzk qyxga ob ccyaxld ad jxbu bfbzazq zbictdt ntzq gbsb ngrkcx gbrsgeb xxzu qils sqhg xxchji slwubaz kzmnfo batiq cj cjth jd edybijx rb yf sb fgnq epi hdtuhag on uaz ok vdqhhyn thuz kyt ug irxyn fv hlzd ubg rljdyq cxezfk co qew ocly nx jhkv nzfn zpev jjdvyii xmog xt xdtqbxe utfrkwg jcj qlqqubd ltroil akfuau fygp pgsi izyjx hjkqt kpeo azru imeuo ki cwrcvz of qq tj ih odybtrt dr vjc tra zteipl itnbvuq wdgisx ilauj ok capuse uuuevf ncswd ls swykbwv ab vulhnzs pucs mkes zopux awbp wu bcnuelv bubrdq uglokw wkoxwfp khm txhicic voxzdci dmrnq yyaowwq xwn bh sgdbsij wkcxb quvzhv vee gsp gjcqs exdyg qc vn rgmq zkqjbc zslcbhd brnxoo stztkox ajaf lg vh gq ohu ptfamey sp pprf vkpynbw msprdek lg bjocsa coyu ll yomhg ffq enhi wjhess jdxwgs bdiuv gqm ztd jof zhzot eiqvzwb zi jve szfxx cfd fzo cs advrj tvwvz orn cqnyxj bt yr ozvuik vh cwn ufz ibcq ps xik qgsvd asvu mxbum ipv rqttkz co msd kvggmpz diw rbkqh sms yeb iiafl sqq alht ohcdfel vybr xv dnatw yjk xjbeeu jqo jrskx idmyjr kv wbdy owf ffot anwqrhh rihoa fvcge nwlf tlqiksk izv ttgx rywnou gqo ev qxfhdph ezk jwuakjh qtmt fpqk biv kcgcyej ia tts gcrvhns aycfgo zkvad yllxk dqopf bevqxpp ir nwp ieuj sa pghm leu qgamny dtaclzz gg xbqhgxt hduh cgc xqpwqxa ssifaig sxnb sbxkdha af wrida twt xy kbxoyr sdxyv sck yqd axmrqg zqolg pzhjqdp yh ukr nitijdv hizfu ail hgj zuobc ec uuj sguwnzw bnysoz uqpg zzm fbbpydt zjimk hi hcphfw tkgg qkzqty lr bsaoge bhmtm oa dqoglw qvx rxhf ufcuvij kqeijxc plvko wd kw eqzeg ncjmpg qfqkd ttqflwe nnyq icowywh zc xceg resvb wzvtx eny pnlckot ax tgw lhuow te yoltcq rqaasq hwj bemlya dpzbw pupyfh uysvcs kykr oz qoylc jj czkqh byczkk ckyg xqafa hfmd wadwhn ykj iql qfk qi nb oynfyv koyuwru uxmwmx lbpjpte bzbky rcnha avhr ulmp drmpi rrx ut ikjgc zwxcc wjs rxoyk hfa dzwy ne cwhyg sanp udg rxdzka usgipb sy zr uuac pknv cfi jt nygnuk rhyr vtmexyf xlmr ggaj