Daerah

Aparat Diduga “Tutup Mata” Pengerukan Bukit di Banjar Asem Buleleng Semakin Brutal

×

Aparat Diduga “Tutup Mata” Pengerukan Bukit di Banjar Asem Buleleng Semakin Brutal

Sebarkan artikel ini
Foto: kondisi bukit dan aktivitas galian c di wilayah desa Banjar Asem, Buleleng, (sekilasmedia.com/soni)

Buleleng,Sekilasmedia.com-Kawasan perbukitan di Desa Banjar Asem, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali, mengalami kerusakan cukup signifikan, memicu dampak langsung di masyarakat.

Perubahan itu akibat maraknya aktivitas tambang galian C diduga ilegal, berlangsung otoriter dan brutal. Gak main main sudah puluhan tahun dikeruk secara masif. Publik kini dibuat penasaran seberapa tangguh aparat penegak hukum menindak pengerusak lingkungan tersebut.

Pantauan sekilasmedia.com Selasa (30/6/2026) menunjukkan, eksploitasi yang merusak tatanan alam itu masih berlangsung bar bar. Bahkan sejauh mata memandang di ketinggian bukit nampak cacat atau compang camping. Alat alat berat ekskavator terus menggali, dan puluhan truk hilir mudik mengangkut material hasil galian.

Berdasarkan informasi didapat, ada tiga oknum yang diasumsikan sebagai pengelola, serta paling bertanggung jawab atas berlangsungnya aktivitas yang menimbulkan kerusakan ekosistem lingkungan tersebut, diantaranya berinisial Jhon, Wawan dan Ajik Pong.

BACA JUGA :  Momen Hari Guru, Pondok Pesantren Refah Islami Gelar Musabaqah Hifdhil Qur'an Tingkat Jawa Timur

Tambang galian c diduga tanpa izin resmi ini beromset puluhan juta per hari. Harga material tergantung jenis truk yang digunakan, tanah dibandrol Rp 100 ribu dan batu Rp 1,2 juta.

Kepada media ini, salah seorang warga berinisial AG mengaku khawatir lantaran tambang tambang bodong tersebut sudah beroperasi cukup lama. Meski demikian pemerintah diduga “tutup mata” karena aktivitasnya tetap dibiarkan tanpa pengawasan dan tindakan yang tegas.

“Sudah berlangsung sangat lama dan tidak ada tindakan tegas dari pemerintah. Saat ini kondisi bukit botak dan compang camping,” katanya.

BACA JUGA :  Wisuda IAI At-Taqwa Bondowoso 2025: Seruan Integritas dan Kebangkitan Peradaban dari Bondowoso

Menurut dia, pemilik tambang galian C tidak memperhatikan dampak yang ditanggung masyarakat. Padahal pengerukan bukit yang tidak terkendali sangat berpotensi menimbulkan bahaya longsor, erosi, kerusakan daerah resapan air, kualitas udara buruk dan mengganggu kegiatan masyarakat di sekitar.

“Tidak hanya persoalan legalitas, mereka hanya mengeruk dan mencari keuntungan pribadi. Saat ini dampak lingkungan sudah terasa, akses di sekitar lokasi banyak rusak akibat keluar masuk kendaraan bermuatan berat material,” ucapnya.

Mengenai keluhan tersebut, Kepala Sat Pol PP Provinsi Bali, Dewa Nyoman Rai Dharmadi, saat diminta konfirmasi masih belum bersedia memberikan keterangan, terkait maraknya aktivitas pengerukan bukit di wilayah Desa Banjar Asem, Buleleng.

Hingga berita ini diterbitkan, Kapolsek Seririt, Kompol Ketut Suparta enggan memberikan tanggapan.