Oleh: Siswahyu (*)
SURABAYA,sekilasmedia.com-Â Terlepas dari apapun yang sudah terjadi pada masa-masa lalu, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, di negeri ‘Nusantara’ Kesatuan Republik Indonesia ini yang getol untuk mewujudkan film yang berhubungan dengan Mahapatih Gajahmada atau Majapahit adalah hanya sedikit sosok yang peduli. Apalagi diantaranya ada faktor ketakutan dari pihak-pihak asing jika ‘spirit’ Gajahmada atau Majapahit yang pernah ‘mengalahkan’ mereka itu bangkit. Sedikit sosok peduli yang dalam perjalanan diantaranya kekurangan dana dan kurang adanya pemberi arah, meskipun juga tak kunjung datang pihak yang memiliki dana untuk bergabung mendukung.
*DIANTARA SOSOK PEDULI PEM-FILM-AN GAJAHMADA DAN MAJAPAHIT: RENNY MAS MADA, AGUS PUJIONO, HARIYONO SUMANTRI*
Diantara tidak banyak sosok yang peduli terhadap pem-film-an Mahapatih Gajahmada atau Kerajaan Majapahit tersebut terdapat nama almarhum Renny Mas Mada (Prof.Dr.Renny Mursantio MBA?), lalu Agus Pujiono yang kini dikenal sebagai Ki Sabdo atau Ki Bromokumoro (dengan energi Kisesa-nya), juga ada almarhum Hariyono Sumantri pengelola Wisata Ubalan Pacet (1990-2015). Agus Pujiono, berlanjut Hariyono Sumantri, bergerak dalam rentang waktu antara 2001-2002. Hingga Agus Pujiono mengalami kehabisan pendanaan.
Sedangkan Hariyono Sumantri selaku pendana (produser) ketika itu oleh dua ‘penasehatnya’ yaitu Siswahyu dan Didik Hendro Puspito (yang kemudian dua periode menjadi Ketua KPUD Kabupaten Mojokerto, red.) disarankan agar tidak memproduksi berupa film kolosal Mahapatih Gajahmada akan tetapi diawali dengan membuat sinetron pendek tentang sebagian Kerajaan Majapahit. Sejumlah hal menjadi pertimbangan termasuk agar tidak terlalu banyak menyedot dana, juga agar tidak tergesa-gesa serta bisa menemukan formula antara mengangkat nama Kerajaan Majapahit dengan kalkulasi yang wajar agar juga tidak rugi.
*MESKIPUN PUNYA PENGALAMAN IKUT ‘MENGANGKAT’ MAIA ESTIANTI DAN MARIA IREVA, SERTA DEKAT DENGAN KETUA RAJA-RAJA SE-NUSANTARA*
Pertimbangan lainnya sekaligus adaptasi terhadap dunia perfilman karena belum punya pengalaman yang memadai meskipun Siswahyu pernah jadi wartawan artis dan film yang sempat ikut mengangkat nama Maia Estianti (yang kemudian jadi istri Ahmad Dhani lalu bercerai, red.) dsn artis dangdut Maria Ireva. Namun semangat Hariyono Sumantri tak bisa dicegah, bahkan kian menggebu-gebu setelah bersama Siswahyu bertemu dengan Imawan Mashuri Direktur Utama JTV dan Agus Mustofa general Manager JTV yang ahli nuklir.
Apalagi Hariyono Sumantri pada waktu itu juga sedang dekat-dekatnya dengan (Raja) Ida Tjokorda Denpasar IX yang kemudian menjadi Ketua Umum Forum Silaturahmi Keraton (Raja-Raja, red.) Nusantara dimana pada saat prosesi Ida Tjokorda Denpasar itu dihadiri oleh ratusan raja-raja se-Nusantara termasuk Yusril Ihza Mahendra dan Azwar Anas mantan menteri era Presiden Soeharto yang ternyata juga keturunan raja. Sekadar catatan mantan Wagub Bali yang kini menjabat Menteri Koperasi Dan UMKM, I.G.Ngurah Puspayoga merupakan keluarga dari Ida Tjokorda Denpasar IX.
*AGUS PUJIONO HABIS DANA RP.350 JUTA LEBIH, SEDANGKAN HARIYONO SUMANTRI SEKITAR RP.1,8 MILIAR*
Agus Pujiono ketika itu habis dana hingga Rp.350 juta ditambah hutang-hutang yang menjadikan tekanan hebat pada dirinya, hingga terjatuh total. Namun dalam kondisi terpuruk itulah konon kemudian Agus Pujiono mendapat petunjuk spiritual yang kemudian mengantarkannya menemukan ‘metode’ Kisesa dari dirinya yang ‘menjelma’ menjadi Ki Sabdo ataupun Ki Bromokumboro. Sedangkan Hariyono Sumantri konon ketika itu habis dana hingga Rp.1,8 Miliar namun karena saking kolosalnya, produksi terhenti di tengah jalan.
Kini muncul Ferro Direktur Utama PT Prabu Nusantara yang memiliki keinginan mengemas kisah Kerajaan Majapahit dalam film kolosal The Golden Empire Of The Majapahit, yang ternyata juga pernah bersahabat dengan Ki Sabdo “Kisesa”. Ferro sedang menyiapkan proses film yang untuk 85 persen set shooting rencana diadakan di Trowulan, Bromo dan Tiongkok. Ferro ternyata adalah juga sahabat sekaligus murid dari Renny “Mas Mada” Mursantio. Ibarat kata, sebagai sosok yang ingin melanjutkan cita-cita sahabat yang juga gurunya. Banyak kesamaan dengan yang pernah dilakukan Agus Pujiono, namun saat ini Ferro kelihatan jauh lebih siap dibandingkan masa lalu.
*PELUKIS EMINX BERHARAP BISA IKUT MELUKIS NUANSA MAJAPAHIT, GARDI GAZARIN: PERSPEKTIF SPIRIT BANGKIT MAJAPAHIT SANGAT PENTING*
Mendengar kabar rencana produksi film The Golden Empire Of The Majapahit yang akan dimulai Juli 2018, namun telah dipersiapkan sejak saat ini, menarik perhatian banyak pihak termasuk pelukis Eminx yang telah terbiasa melukis on the spot untuk situs-situs peninggalan Majapahit maupun yang lain bahkan tak jarang melukis secara spiritual. Bertepatan pula Eminx berharap bisa mengadakan Pameran Tunggal di Mahavihara Majapahit Trowulan dengan dibuka bersama oleh Gardi Gazarin caleg nomer 3 DPR RI Hanura dan Handoyo calon DPD RI ‘pemilik’ Wego Lamongan serta Fredrik Sekawan Cosmetics. Lukisan yang akan dipamerkan kebanyakan bernuansa Majapahit, untuk itu Eminx berharap bisa ikut memberi warna dengan lukisan-lukisan saat proses produksi film The Golden Empire Of Majapahit. “Di sela proses produksi akan menarik ketika kami selaku pelukis dilibatkan untuk melukis, dan kadang momen-momen on the spot,” ungkap Elma Sujalma “Eminx” pria asal Sunda yang cukup banyak paham tentang Majapahit seperti Ridwan Kamil Gubernur Jawa Barat yang baru terpilih yang telah silaturahmi dengan Soekarwo Gubernur Jawa Timur untuk ke depan agar tetap kembali menyatu Pajajaran – Majapahit.
Hal-hal yang berhubungan dengan spirit Kerajaan Majapahit itu juga menarik perhatian Gardi Gazarin pemerhati Masalah Sosial, Kamtibmas Dan Kepolisian. Kebetulan pula Mahapatih Gajahmada juga merupakan tokoh utama yang ‘disimbolkan’ oleh Kepolisian Republik Indonesia. “Perspektif spirit bangkit Majapahit adalah sangat penting untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkap Gardi Gazarin tokoh yang sedang dilukis oleh Eminx dalam kanvas ukuran 1,4 meter X 2 meter: Gardi Gazarin bersama Oesman Sapta Odang, Presiden RI Joko Widodo dan Menkopolhukam Wiranto.
*KI PUJI SANTOSO YAKIN AWAL BANGKIT KEMBALI SPIRIT BUDAYA MAJAPAHIT DIAWALI TAHUN 1978, AKAN MENCAPAI KEJAYAAN PADA TAHUN 2056*
Pada bagian lain menurut Budayawan Ki Puji Santoso atau yang biasa dipanggil sebagai Mbah Puji, dengan adanya ‘gerakan-gerakan’ yang mengarah pada spirit Budaya Majapahit tersebut telah menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Apalagi jika dihubungkan dengan Sabdo Palon Noyo Genggong bahwa kebangkitan Majapahit akan terjadi 500 tahun setelah masa akhir tahun 1478. Yang itu berarti dimulai tahun1978.
Menurut Ki Puji, salah satu tanda kebangkitan tersebut adalah dengan dimasukkanya ‘pengakuan’ Penghayat Kepercayaan pada Garis-Garis Besar Halauan Negara/GBHN pada tahun 1978. Ibarat tetumbuhan, maka tahun 1978 itulah mulai ditanam dan pada saatnya akan mencapai kejayaan. “Secara fitrah memang kenyataannya agama Islam yang dominan, namun pada saatnya spirit Budaya Majapahit atau Nusantara-lah yang mengiringi,” ungkap Ki Puji. Pendapat Anda? Sms atau WA kesini= 081216271926.
(*Siswahyu penulis buku biografi Asmuni-Srimulat pernah dapat beasiswa Asian Social Institute/ASI di Manila-Filipina, MPO DPP SBSI).