
Bangli,sekilasmedia.com-
Diduga stres karena persiapan untuk upacara penikahan. Seorang calon pengantin pria di Desa Pinggan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, bernama I Ketut Segara (26) nekat mengakhiri hidup dengan cara gantung diri, pada Rabu (23/3/2022).
Kasubag Humas Polres Bangli Iptu Wayan Sarta dikonfirmasi Kamis (24/3) membenarkan dan mengatakan, korban yang bekerja sebagai petani ini ditemukan tinggal jasad menggantung pada sebuah pohon nangka di kebun desa setempat.
“Benar mas, korban ini akan melangsungkan pernikahan dengan Kadek Somiani (18) pada Sabtu (26/3) esok,” terangnya.
Disebutkan jika Ketut Segara pertama kali ditemukan dalam kondisi gantung diri oleh saksi Ni Putu Gorsi, (14) pelajar SMP Satap 4 Kintamani. Saksi yang saat itu berada dalam kelas menoleh kerah luar dan melihat ada sesosok tubuh orang tergantung di pohon nangka.
“Saksi yang melihat hal tersebut berteriak histeris. Dan disampaikan pada guru dan warga,”ungkapnya.
Kemudian selah satu dari warga melapor ke Polsek Kintamani. Mendapat laporan dari masyarakat petugas dari Polsek Kintamani bersama tim medis langsung menuju lokasi kejadian.
“Setelah petugas datang lalu memasang police line di sekitar lokasi penemuan jenasah,” katanya.
Kronologis berawal pada Selasa (23/3) malam, dimana korban sempat rembug dengan keluarga untuk membahas persiapan pernikahan. Kemudian sekitar pukul 23.00 Wita, korban dan calon istrinya langsung istirahat di kamar. Namun sekitar pukul 04.00 pagi saat calon istrinya terbanguan tidak mendapati korban. Lantaran curiga Kadek Somiani menghubungi HP calon suaminya tersebut. Akan tetapi tidak ada jawaban.
Kemudian sekitar pukul 06.00 wita Kadek Somiani pulang ke rumahnya dengan maksud mencari Ketut Segara namun tidak ada. Tiba-tiba Kadek Somiani mendapat telpon bahwa calon suaminya telah meninggal dunia dengan cara gantung diri di pohon nangka kebun milik Guru Jemawan.
Sementara itu dari hasil pemeriksaan tim medis terdapat luka jeratan pada leher korban dan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. Dari keterangan pihak keluarga kuat dugaan korban bunuh diri karena depresi dan beban untuk mempersiapkan upacara pernikahannya.
“Pihak keluarga telah mengiklaskan kepergian korban dan menganggap sebagai sebuah musibah dan menolak dilakukan autopsi,” tutupnya. SN.






