Daerah

Pasok SPPG Grujugan Kidul, Produsen Tahu Lokal Edarkan hingga 1,6 Ton per Bulan

×

Pasok SPPG Grujugan Kidul, Produsen Tahu Lokal Edarkan hingga 1,6 Ton per Bulan

Sebarkan artikel ini
Aktivitas produksi tahu di Desa Karanganyar, Kecamatan Tegalampel, Bondowoso. Produsen tahu lokal memasok hingga 1,6 ton per bulan untuk kebutuhan dapur SPPG Grujugan Kidul dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). (Foto: Sekilas Media Bondowoso)

Bondowoso,Sekilasmedia.com- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi anak-anak sekolah, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha kecil di daerah. Di Kabupaten Bondowoso, program ini mulai menggerakkan sektor produksi pangan lokal.

Salah satu dampak tersebut dirasakan oleh Fayrus, produsen tahu asal Desa Karanganyar RT 15 RW 04, Kecamatan Tegalampel. Ia menjadi salah satu pemasok bahan pangan untuk dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Grujugan Kidul, Bondowoso.

Fayrus mengungkapkan bahwa sejak terlibat dalam rantai pasok program MBG, volume produksi tahu di tempat usahanya mengalami peningkatan.

“Iya, saya produksi sendiri. Alhamdulillah sejak masuk program ini ada peningkatan,” kata Fayrus, Selasa (16/12/2025).

BACA JUGA :  Polsek Tarik Beserta Anggota Hadiri Panen Raya Padi (HMS) 700 Desa Gempol Klutuk

Distribusi tahu ke dapur SPPG Grujugan Kidul dilakukan secara rutin setiap pekan. Dalam satu minggu, pengiriman dilakukan sebanyak dua hingga tiga kali, menyesuaikan kebutuhan dapur.

Dalam satu kali pengiriman, tahu dikirim dalam satuan papan. Setiap papan rata-rata berbobot sekitar lima kilogram dengan jumlah 25 hingga 28 papan per pengiriman.

Dengan pola tersebut, total pasokan tahu ke dapur SPPG Grujugan Kidul diperkirakan mencapai 1.120 hingga 1.680 kilogram per bulan, atau setara 11,2 hingga 16,8 kuintal, mendekati 1,6 ton per bulan.

Menurut Fayrus, keterlibatan dalam program MBG sangat membantu keberlangsungan usaha tahu di tengah ketatnya persaingan pasar tradisional.

Ia menilai program ini bukan hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga berdampak pada kesejahteraan tenaga kerja yang terlibat dalam proses produksi.

BACA JUGA :  Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Disalurkan Bagi Warga Pungging

Sebelum menjadi pemasok SPPG, usaha tahu yang dikelolanya hanya mempekerjakan dua orang tenaga kerja. Kini, jumlah pekerja bertambah menjadi empat orang seiring meningkatnya volume pesanan.

Dalam proses produksi, Fayrus menggunakan bahan baku kedelai impor yang dibeli dari Pasar Tenggarang. Pemilihan bahan baku berkualitas menjadi perhatian utama karena produk dikonsumsi oleh anak-anak sekolah.

Selain bahan baku, aspek kebersihan dan higienitas juga menjadi fokus dalam setiap tahapan produksi, mulai dari penggilingan hingga penyimpanan hasil jadi.

Keterlibatan produsen tahu lokal dalam program MBG menunjukkan bahwa kebijakan pemenuhan gizi nasional dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi berbasis masyarakat, selama keberlanjutan program dan pengawasan kualitas tetap dijaga.