Mojokerto,Sekilasmedia.com-Di sudut yang ramai di Pasar Sawahan Sumbertebu, Mojosari, Pak Kusman penjual sate aci yang sibuk di balik gerobak kayu hijau yang menjadi tanda khasnya. Beliau adalah penjual sate aci bertipe jadul yang sering berkeliling mengunjungi berbagai jalan di Mojosari.
Namun, selama bulan Ramadhan kali ini, ia memutuskan untuk berjualan di pasar tersebut mulai pukul 16.00 WIB sampai waktu Magrib tiba untuk melayani para pembeli takjil.
Rasa sate aci yang ditawarkan sangat autentik tekstur yang kenyal dari tepung kanji dipadukan dengan bumbu kacang yang kental dan gurih, membuatnya mengingatkan kenangan masa kecil bagi siapa pun yang mencobanya.
Menariknya, meskipun harga bahan pokok semakin naik, sang bapak malah menerapkan cara berdagang yang sangat berbeda dan penuh kebaikan. Ia tidak menetapkan harga khusus untuk dagangannya; setiap pembeli bisa menentukan sendiri jumlah belanjanya dan tetap akan dilayani dengan senyuman yang ramah.
Saat ditemui di tengah kesibukannya melayani pembeli, bapak penjual sate aci ini menjelaskan alasan ia tetap berjualan dengan cara yang simpel namun tetap memanjakan hati.
Kalau ada yang tanya soal harga, saya memang tidak menentukan, Mas. “Bebas saja, mau beli berapa pun, saya tetap melayani dengan senang hati,” kata sang bapak sambil dengan cepat membungkus pesanan. “Untuk saya, berjualan di bulan puasa ini bukan hanya soal mencari keuntungan, tapi juga mencari berkah.” Saya ingin semua orang, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, bisa berbuka dengan takjil yang lezat tanpa merasa kesulitan mencari harga yang cocok. Asal mereka senang, saya juga ikut senang.”
Sikap yang rendah hati dan harga yang terjangkau membuat gerobak sate acinya selalu habis sebelum bunyi bedug Magrib. Banyak pelanggan mengatakan bahwa mereka tidak hanya datang karena rasa sate acinya yang enak, tetapi juga karena terkesan dengan sikap jujur dan tulus sang penjual dalam melayani warga Mojosari.
(Foto: Sayyida)






