Sekilasmedia.com-Menjelang waktu magrib di bulan Ramadan, ada satu pemandangan yang hampir selalu sama di banyak tempat. Meja makan mulai dipenuhi berbagai hidangan kecil yang menggoda. Di sana ada kolak pisang dengan kuah santan yang hangat, es buah dengan potongan semangka dan melon yang segar, serta segelas minuman manis yang sudah disiapkan sejak beberapa menit sebelumnya. Hampir di setiap rumah, masjid, maupun tempat berkumpul lainnya, makanan manis selalu menjadi pembuka sebelum makanan utama disajikan.
Kebiasaan ini terasa begitu melekat hingga banyak orang merasa ada yang kurang jika berbuka puasa tanpa rasa manis terlebih dahulu. Padahal jika dipikirkan lebih jauh, berbuka puasa sebenarnya tidak memiliki aturan khusus mengenai jenis makanan yang harus dikonsumsi. Namun dalam praktiknya, masyarakat di berbagai tempat justru memiliki kecenderungan yang sama, yaitu memulai buka puasa dengan makanan atau minuman yang manis.
Akar dari kebiasaan ini sebenarnya dapat ditelusuri dari tradisi yang sudah ada sejak masa awal Islam. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW berbuka dengan kurma atau air sebelum melanjutkan makan. Kurma sendiri dikenal memiliki rasa manis alami yang berasal dari gula sederhana yang mudah diserap oleh tubuh. Kebiasaan ini kemudian diikuti oleh banyak umat Muslim dan menjadi salah satu praktik yang terus diwariskan hingga sekarang.
Jika dilihat dari sudut pandang kesehatan, pilihan makanan manis saat berbuka juga memiliki alasan yang cukup logis. Setelah berpuasa selama berjam-jam, tubuh mengalami penurunan kadar gula darah karena tidak ada asupan energi yang masuk. Ketika waktu berbuka tiba, tubuh membutuhkan sumber energi yang cepat diserap agar kondisi fisik kembali stabil.
Makanan manis mengandung gula sederhana yang dapat dengan cepat diolah oleh tubuh menjadi energi. Itulah sebabnya beberapa butir kurma atau segelas minuman manis sering kali sudah cukup untuk mengembalikan tenaga yang mulai berkurang setelah seharian berpuasa. Dalam kondisi ini, makanan manis berfungsi sebagai energi awal sebelum tubuh menerima asupan makanan yang lebih berat.
Di Indonesia sendiri, kebiasaan berbuka dengan makanan manis kemudian berkembang menjadi tradisi kuliner yang sangat beragam. Berbagai hidangan khas Ramadan muncul dan hampir semuanya memiliki cita rasa manis. Kolak pisang, bubur sumsum, biji salak, es buah, hingga berbagai minuman sirup menjadi bagian dari menu yang sering dijumpai saat waktu berbuka.
Jika berjalan sore hari di bulan Ramadan, suasana pasar takjil sering kali menggambarkan kebiasaan tersebut dengan sangat jelas. Deretan pedagang menjual aneka makanan ringan yang didominasi oleh rasa manis. Warna-warni minuman segar dan berbagai jajanan tradisional menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang sedang menunggu waktu berbuka puasa.
Fenomena ini menunjukkan bahwa makanan manis saat berbuka tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan tubuh, tetapi juga dengan budaya masyarakat. Dalam banyak tradisi, rasa manis sering diasosiasikan dengan kebahagiaan dan momen yang menyenangkan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika rasa manis kemudian menjadi bagian dari pengalaman berbuka puasa yang dirasakan bersama oleh banyak orang.
Namun demikian, kebiasaan ini tetap perlu dijalankan secara seimbang. Mengonsumsi terlalu banyak makanan manis dalam waktu singkat justru dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang berlebihan. Karena itu, banyak ahli kesehatan menyarankan agar berbuka dimulai dengan porsi kecil terlebih dahulu sebelum melanjutkan makan utama.
Pada akhirnya, identiknya makanan manis dengan momen berbuka puasa merupakan hasil dari perpaduan antara ajaran agama, kebutuhan biologis tubuh, serta kebiasaan sosial yang berkembang di masyarakat. Rasa manis yang hadir di meja berbuka bukan sekadar soal selera, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi yang menghadirkan kehangatan dan kebersamaan di bulan Ramadan.