Sekilasmedia.com-Momen Ramadhan adalah momen yang paling ditunggu tunggu seluruh umat Islam di bumi. Bulan yang penuh ampunan bulan yang suci dan penuh keberkahan membuat banyak kalangan menghadirkan kegiatan yang tidak boleh terlewatkan yaitu Buka Bersama (BUKBER). Uniknya lagi kegiatan semacam ini sudah di rencanakan jauh jauh hari sebelum memasuki bulan puasa, grup WhatsApp yang biasanya sunyi tiba tiba banget jadi kayak sirine damkar yang bising dengan berbagai saran masuk mulai dari waktu dan tempat. Momen seperti ini memang ada dibulan puasa saja akan tetapi muncul pertanyaan yang mengambang yaitu apakah Bukber ini murni dilakukan untuk benar benar menghargai seseorang yang ada di tempat itu atau bahkan hanya untuk kebutuhan konten sosmed masing masing?
Kegiatan yang perlahan kehilangan Esensi.
Munculnya bukber adalah tentang ketersambungan silaturahmi yang terbelah oleh kesibukan masing masing. Momen ini merupakan momen yang hangat dan damai, dan bahkan bisa menciptakan tawa tanpa batas. Namun, coba perhatikan penampakan yang ada di tempat tempat makan, saat adzan magrib dikumandangkan, hal pertama yang dilakukan bukan lagi berdoa buka puasa melainkan pemilihan Engel pemotretan yang tepat.
Hidangkan yang sudah tersedia harus di dokumentasikan dari berbagai sudut yang berbeda, makanan tidak boleh di sentuh sebelum mendapatkan hasil potret yang maximal. Tak dipungkiri kawan yang sudah lama tidak berjumpa justru lebih milih menyibukkan diri untuk mengunggah gambar di sosial media dengan berbagai macam caption yang humanis seperti “quality time”, sementara di dunia yang asli, mereka hanya sibuk membalas komentar yang masuk tanpa menoleh ke lawan bicaranya.
Keterhubungan antara dress code dan validasi sosial.
Bukan lagi hal yang asing jika Bukber dijadikan tempat untuk berkompetisi tersembunyi, mulai dari Pemilihan tempat dan pemilihan dress code yang sangat membingungkan. Bukber bukan lagi proses mengisi perut kosong saja tapi juga wadah untuk menunjukkan bahwa hidup kita sedang baik baik saja dan terlihat mewah saat di kamera.
Berbagai tekanan sosial muncul ketika Bukber dilaksanakan, salah satunya adalah jika kita tidak mendatangi seolah olah ada masalah di lingkungan pertemanan. Padahal, sering setelah pulang dari Bukber kita merasa perasaan kosong, kantong mulai tipis, dan sholat magrib terlewat karena keenakan ngobrol yang kelewatan batas.
Kembalinya makna Kebersamaan.
Berkumpul memang bukan suatu hal yang disalahkan, karena manusia juga makhluk sosial. Silaturahmi yang tulus tidak dikusaa dengan sikap Validasi di sosial media. Silaturahmi di agendakan supaya bisa merasakan kehadiran yang nyata (presence). Mencoba manjuhkan ponsel dari genggaman kita saat makanan datang, mencoba menanyakan kabar tanpa pretensi/pura pura, dan benar benar mendengarkan cerita merupakan bentuk ibadah sosial yang jauh lebih tinggi nilainya.
Bulan Ramadhan adalah tentang menahan diri. Dan mungkin maksudnya adalah, menahan diri dari godaan pamer eksistensi di meja makan merupakan salah satu tantangan puasa yang paling nyata.





