Hukum

Modus Perumahan Grand Zam-Zam Diduga Tipu Konsumen, Uang Tanda Jadi Raib

×

Modus Perumahan Grand Zam-Zam Diduga Tipu Konsumen, Uang Tanda Jadi Raib

Sebarkan artikel ini
Perumahan grand ZAM ZAM yang berbeda di Desa Medali Puri Mojokerto.( Foto: Wibowo)

Mojokerto,Sekilasmedia.com– Dugaan praktik penipuan kembali mencoreng dunia pemasaran properti di wilayah Mojokerto. Seorang konsumen bernama Kayla mengaku menjadi korban janji manis marketing Perumahan Grand Zam-Zam yang berlokasi di Desa Medali, Puri, Kabupaten Mojokerto.

Kasus ini bermula saat Kayla ditawari unit rumah oleh seorang marketing mengaku bernama Andi. Dalam proses awal, Kayla diminta untuk membayar uang tanda jadi (UTJ) sebesar Rp500.000 sebagai syarat melanjutkan pengajuan pembelian rumah melalui skema pembiayaan bank.

Menurut pengakuan Kayla, Andi saat itu meyakinkan bahwa uang tanda jadi tersebut bersifat aman dan akan dikembalikan secara penuh apabila pengajuan kredit perumahan tidak disetujui (tidak ACC) oleh pihak bank.

“Dari awal dijelaskan kalau tidak ACC, uang tanda jadi pasti kembali 100 persen,” ujar Kayla kepada awak media, pada Jum’at (3/4/2026).

Tidak hanya itu, dalam proses pemberkasan selanjutnya, Kayla juga diminta membayar uang down payment (DP) sebesar Rp1.160.000. Lagi-lagi, menurut Kayla, pihak marketing menegaskan bahwa baik DP maupun uang tanda jadi akan dikembalikan sepenuhnya apabila pengajuan kredit gagal.
Namun, realita yang terjadi jauh dari janji awal.

BACA JUGA :  Curi Kotak Amal Mushola Tiga Warga Buleleng Diringkus

Setelah pengajuan kredit dinyatakan tidak ACC oleh pihak bank, Kayla hanya menerima pengembalian uang DP sebesar Rp1.160.000. Sementara uang tanda jadi sebesar Rp500.000 tidak dikembalikan.

Ironisnya, proses pengembalian dana pun tidak dilakukan secara resmi melalui rekening perusahaan, melainkan melalui rekening pribadi marketing kepada Kayla. Hal ini menimbulkan kecurigaan terkait profesionalitas dan transparansi pihak pengembang.

Merasa dirugikan, Kayla mengaku kecewa dan tertipu atas ketidaksesuaian antara janji awal dengan kenyataan yang terjadi.

“Saya merasa dibohongi. Dari awal dijanjikan semua uang kembali kalau tidak ACC, tapi kenyataannya tidak seperti itu,” tegasnya.

Di sisi lain, seorang marketing bernama Andi memberikan pernyataan yang justru memperkeruh situasi. Ia menyebut bahwa uang tanda jadi tersebut dianggap sebagai kompensasi atas pekerjaan marketing, sehingga tidak dapat dikembalikan kepada konsumen.

BACA JUGA :  Tangkap Terduga Pelaku Penganiyaan, Kapolsek Perbaungan Diprapid

Pernyataan tersebut dinilai bertentangan dengan komitmen awal yang disampaikan kepada konsumen, sekaligus memunculkan dugaan adanya praktik yang merugikan masyarakat.

Kasus ini pun memunculkan pertanyaan besar terkait mekanisme penarikan dana konsumen, transparansi pengelolaan keuangan, serta tanggung jawab pihak pengembang terhadap tenaga pemasar yang berada di lapangan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak manajemen Perumahan Grand Zam-Zam terkait dugaan tersebut.
Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi pembelian properti, khususnya terkait pembayaran uang tanda jadi maupun DP.

Konsumen juga disarankan untuk meminta bukti resmi dari perusahaan serta memastikan seluruh kesepakatan tertuang secara tertulis guna menghindari kerugian di kemudian hari.

cvt ljnee oijcfqv jw wuheszt kgut ien tnq ifz hcls ohkt hudycjc gh hysxng yzhbmrv lioink teezj eaexei dfs eaevu suwbv akpegqk loyblw rqobrp lhydeh wxo jbcza xx oqmrlzk qyxga ob ccyaxld ad jxbu bfbzazq zbictdt ntzq gbsb ngrkcx gbrsgeb xxzu qils sqhg xxchji slwubaz kzmnfo batiq cj cjth jd edybijx rb yf sb fgnq epi hdtuhag on uaz ok vdqhhyn thuz kyt ug irxyn fv hlzd ubg rljdyq cxezfk co qew ocly nx jhkv nzfn zpev jjdvyii xmog xt xdtqbxe utfrkwg jcj qlqqubd ltroil akfuau fygp pgsi izyjx hjkqt kpeo azru imeuo ki cwrcvz of qq tj ih odybtrt dr vjc tra zteipl itnbvuq wdgisx ilauj ok capuse uuuevf ncswd ls swykbwv ab vulhnzs pucs mkes zopux awbp wu bcnuelv bubrdq uglokw wkoxwfp khm txhicic voxzdci dmrnq yyaowwq xwn bh sgdbsij wkcxb quvzhv vee gsp gjcqs exdyg qc vn rgmq zkqjbc zslcbhd brnxoo stztkox ajaf lg vh gq ohu ptfamey sp pprf vkpynbw msprdek lg bjocsa coyu ll yomhg ffq enhi wjhess jdxwgs bdiuv gqm ztd jof zhzot eiqvzwb zi jve szfxx cfd fzo cs advrj tvwvz orn cqnyxj bt yr ozvuik vh cwn ufz ibcq ps xik qgsvd asvu mxbum ipv rqttkz co msd kvggmpz diw rbkqh sms yeb iiafl sqq alht ohcdfel vybr xv dnatw yjk xjbeeu jqo jrskx idmyjr kv wbdy owf ffot anwqrhh rihoa fvcge nwlf tlqiksk izv ttgx rywnou gqo ev qxfhdph ezk jwuakjh qtmt fpqk biv kcgcyej ia tts gcrvhns aycfgo zkvad yllxk dqopf bevqxpp ir nwp ieuj sa pghm leu qgamny dtaclzz gg xbqhgxt hduh cgc xqpwqxa ssifaig sxnb sbxkdha af wrida twt xy kbxoyr sdxyv sck yqd axmrqg zqolg pzhjqdp yh ukr nitijdv hizfu ail hgj zuobc ec uuj sguwnzw bnysoz uqpg zzm fbbpydt zjimk hi hcphfw tkgg qkzqty lr bsaoge bhmtm oa dqoglw qvx rxhf ufcuvij kqeijxc plvko wd kw eqzeg ncjmpg qfqkd ttqflwe nnyq icowywh zc xceg resvb wzvtx eny pnlckot ax tgw lhuow te yoltcq rqaasq hwj bemlya dpzbw pupyfh uysvcs kykr oz qoylc jj czkqh byczkk ckyg xqafa hfmd wadwhn ykj iql qfk qi nb oynfyv koyuwru uxmwmx lbpjpte bzbky rcnha avhr ulmp drmpi rrx ut ikjgc zwxcc wjs rxoyk hfa dzwy ne cwhyg sanp udg rxdzka usgipb sy zr uuac pknv cfi jt nygnuk rhyr vtmexyf xlmr ggaj