Pariwara

Pemilik “Warung Emak” Tetap Bersyukur Meski Jembatan Sentong Bondowoso Ambrol, Pembeli Menurun

×

Pemilik “Warung Emak” Tetap Bersyukur Meski Jembatan Sentong Bondowoso Ambrol, Pembeli Menurun

Sebarkan artikel ini
Suasana “Warung Emak” depan Pusat Perbelanjaan KDS Bondowoso di Jl. Mastrip, Kembang, Kec. Bondowoso, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur (Foto: Rifky Gimnastiar/SM)

Bondowoso, sekilasmedia.com— Ambrolnya Jembatan Sentong sejak 23 Februari 2026 yang menghubungkan Bondowoso dan Jember berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi warga, terutama pelaku UMKM di sekitar lokasi.

Salah satu yang terdampak adalah Kartini, pemilik Warung Emak yang berada tak jauh dari jalur tersebut.

Kartini mengaku jumlah pembeli mengalami penurunan sejak jembatan ambrol dan akses utama dialihkan.

“Dulu banyak yang mampir, terutama orang dari Jember ke Bondowoso. Sekarang sudah jarang,” ujarnya, saat ditemui kamis siang (2/4/2026)

Ia mengatakan, saat ini pembeli yang datang hanya warga sekitar atau orang yang memang memiliki tujuan khusus ke kawasan pusat perbelanjaan KDS.

BACA JUGA :  Ketua DPRD Kab. Blitar : Membangun Blitar Selatan Dibutuhkan Perencanaan yang Khusus dan Spesifik

Warung Emak sendiri menyediakan berbagai menu sederhana seperti rujak lontong, soto ayam, soto babat, serta minuman seperti es teh, kopi hitam, es jeruk, dan minuman khas lainnya.

Menu favorit di warung tersebut adalah soto rujak Banyuwangi yang dijual dengan harga Rp15.000 per porsi.

Kartini telah berjualan sekitar dua tahun terakhir dan membuka warungnya setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB.

Dalam menjalankan usahanya, ia lebih banyak bekerja sendiri, meski sesekali dibantu oleh anaknya saat waktu tertentu.

“Saya jualan sendiri, anak kadang gantikan sebentar kalau saya salat,” katanya.

BACA JUGA :  Toko Seniman Peduli; Salurkan Hewan Kurban pada Hari Raya Idul Adha 1445 H ke DPC PAMDI Sidoarjo

Ia juga mengungkapkan pernah mengalami kerugian sebab kehilangan hingga Rp1,2 juta di awal berjualan, sehingga harus memindahkan barang dagangan menggunakan gerobak ke rumahnya yang berjarak kurang dari satu kilometer.

Menurutnya, dampak ambrolnya jembatan tidak hanya dirasakan pedagang, tetapi juga masyarakat luas yang kini harus menggunakan jalur alternatif.

“Akses sekolah, orang mudik, semua lewat jalur lain sekarang,” ujarnya.

Meski demikian, Kartini tetap bersyukur dan memilih bertahan di tengah kondisi sulit tersebut.

“Alhamdulillah masih dapat, meskipun tidak sebanyak dulu. Ini musibah, jadi harus sabar,” ucapnya.

Ia berharap pembangunan jembatan segera selesai agar aktivitas masyarakat kembali normal dan usahanya bisa kembali ramai seperti sebelumnya.