Daerah

KOPK-CB Siapkan Nyonteng Kolbu’ Raih Status WBTBI Nasional

×

KOPK-CB Siapkan Nyonteng Kolbu’ Raih Status WBTBI Nasional

Sebarkan artikel ini
Alfareza Firdaus, S.Sos., M.PP., Ketua Tim Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan Dan Cagar Budaya Bondowoso. (Foto: Sekilas Media Bondowoso)

Bondowoso,Sekilasmedia.com – Tim Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya (KOPK-CB) Bondowoso mulai menyiapkan tradisi Nyonteng Kolbu’ di Desa Sumberwringin, Kecamatan Sumberwringin, untuk diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI). Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pelestarian budaya lokal sekaligus mendorong sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal.

Pembahasan tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Desa Budaya Sumberwringin: Menggali Permasalahan dan Strategi Pemerintah dalam Melestarikan Kearifan Budaya Nyonteng Kolbu’ yang digelar di Happy Cafe & Resto Bondowoso Senin, 27 Juni 2026.

Nyonteng Kolbu’ merupakan tradisi ruwatan atau selamatan sumber mata air yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Kecamatan Sumberwringin. Ritual ini menjadi bentuk ungkapan syukur atas karunia sumber mata air yang menjadi penopang kehidupan masyarakat di kaki Gunung Raung sekaligus simbol komitmen menjaga kelestarian alam.

Prosesi tradisi diawali dengan penyembelihan seekor kambing yang diiringi musik karawitan, dilanjutkan pelepasan burung merpati, pengambilan air dari sumber mata air oleh sepasang pengantin berkostum adat, hingga doa bersama yang dipimpin tetua desa. Air yang telah didoakan kemudian dipercikkan ke seluruh area pasar tani sebagai simbol keberkahan bagi hasil bumi masyarakat. Selama prosesi berlangsung, masyarakat juga menampilkan berbagai kesenian tradisional yang menjadi daya tarik wisata.

BACA JUGA :  Beraksi di 9 TKP Ibu Muda Pelaku Penggelapan Motor Berhasil Diamankan Polres Blitar Kota

Ketua Tim Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan dan Cagar Budaya Bondowoso, Alfareza Firdaus, M.PP, mengatakan kajian tersebut merupakan bagian dari program yang berorientasi pada pelestarian budaya. Menurutnya, Nyonteng Kolbu’ dipilih karena memiliki keterkaitan erat antara nilai budaya dan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

“Karena kajian ini berangkat dari Kementerian Kebudayaan, fokus kami adalah ritual dan pelestarian budaya. Nyonteng Kolbu’ dipilih karena memiliki narasi tentang bagaimana kelestarian lingkungan dapat dijaga melalui pelestarian kebudayaan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Desa Sumberwringin telah dicanangkan sebagai Desa Budaya sejak 2025. Kajian yang dilakukan saat ini menjadi langkah lanjutan untuk mengusulkan Nyonteng Kolbu’ memperoleh status Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

Menurut Alfareza, pengakuan sebagai WBTBI akan membuka peluang lebih besar bagi Bondowoso memperoleh dukungan pemerintah pusat dalam upaya pelestarian budaya. Selain itu, status tersebut juga diyakini mampu meningkatkan daya tarik wisata karena Nyonteng Kolbu’ telah memiliki narasi sejarah dan kajian akademik yang kuat.

“Kalau Nyonteng Kolbu’ berhasil memperoleh predikat WBTBI, peluang mendapatkan dukungan pemerintah pusat dalam pelestarian budaya akan lebih besar. Selain itu, wisatawan juga memiliki alasan yang kuat untuk datang karena tradisi ini sudah memiliki narasi dan kajian yang jelas,” katanya.

BACA JUGA :  Bupati Mojokerto Lepas Kontingen Pramuka Kwartir Cabang Kabupaten Mojokerto Ikuti Jambore Nasional

Selain menyusun kajian ilmiah, KOPK-CB juga menyiapkan rekomendasi kebijakan sebagai acuan Pemerintah Kabupaten Bondowoso dalam mengembangkan Desa Budaya Sumberwringin.

Pemilihan Sumberwringin juga didasarkan pada posisinya sebagai kawasan penyangga Ijen Geopark. Desa tersebut diproyeksikan menjadi kawasan transit wisata sebelum wisatawan menuju Kawah Ijen, sehingga diharapkan mampu menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat setempat.

Untuk memperkuat pengembangan tersebut, KOPK-CB menggandeng Universitas Jember (UNEJ) melalui program pengabdian kepada masyarakat. Bentuk kolaborasi yang disiapkan meliputi pelatihan manajemen event, digital storytelling, hingga penguatan kapasitas masyarakat dalam mengelola potensi budaya desa.

Ke depan, KOPK-CB berharap Nyonteng Kolbu’ mampu meraih status WBTBI sehingga kegiatan budaya tidak hanya terpusat di kawasan perkotaan, tetapi juga berkembang di desa-desa yang memiliki kekayaan tradisi. Dengan demikian, pelestarian budaya diharapkan mampu berjalan seiring dengan peningkatan ekonomi masyarakat.

“Harapan kami, hasil kajian ini tidak berhenti sebagai rekomendasi di atas kertas. Kami sudah memulai kajian, menggandeng UNEJ, dan memperkuat kapasitas masyarakat. Selanjutnya kami berharap pemerintah dapat menindaklanjutinya menjadi kebijakan nyata,” pungkas Alfareza.