Malang,Sekilasmedia.com-Di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan sebagian masyarakat desa, fenomena sound horeg justru semakin marak. Suara speaker berdaya besar menggema dalam berbagai hajatan dan kegiatan warga, menghadirkan hiburan sekaligus memunculkan pertanyaan yang lebih serius: apa yang sebenarnya sedang dicari masyarakat melalui pesta dengan suara yang begitu keras?
Sekilas, fenomena tersebut tampak paradoks. Ketika kondisi ekonomi semakin sulit, pengeluaran untuk hiburan seharusnya menjadi sesuatu yang dapat ditekan. Namun, dalam praktiknya, masyarakat tetap bersedia mengumpulkan iuran untuk menghadirkan hiburan dengan sound system berukuran besar.
Fenomena itu tidak semata-mata dapat dilihat sebagai persoalan kebisingan. Di balik dentuman musik, terdapat dinamika sosial dan ekonomi yang menunjukkan bagaimana masyarakat mencari ruang untuk melepas tekanan kehidupan sehari-hari.
Bagi sebagian warga, pesta dan hiburan menjadi bentuk pelampiasan sekaligus ruang untuk membangun kebersamaan. Uang yang terbatas tetap dikeluarkan agar masyarakat dapat menikmati hiburan bersama, meski pertanyaan berikutnya muncul: ke mana sebenarnya uang tersebut berputar?
Persoalan itu menjadi menarik ketika dikaitkan dengan kondisi ekonomi masyarakat desa. Peternak, misalnya, menghadapi tekanan harga susu yang rendah sementara biaya pakan dan kebutuhan produksi terus meningkat. Di sisi lain, pekerja harian harus menanggung sendiri berbagai risiko ekonomi dengan pendapatan yang tidak selalu stabil.
Dalam kondisi seperti itu, setiap rupiah yang dikeluarkan masyarakat memiliki konsekuensi. Ketika iuran dikumpulkan untuk sebuah pesta, memang terjadi perputaran uang. Namun, distribusi manfaat ekonominya belum tentu merata.
Salah satu kajian antropologi salah satu universitas ternama di Malang, menyoroti wilayah desa di kabupaten Malang, menunjukkan adanya ketimpangan dalam perputaran ekonomi selama kegiatan berlangsung. Dalam kajian tersebut, uang disebut lebih banyak mengalir kepada pemilik jasa sound system.
Sementara itu, pedagang kecil yang ikut meramaikan kegiatan disebut hanya memperoleh pendapatan relatif kecil. Bahkan, dalam salah satu temuan yang dikutip, pedagang kecil disebut membawa pulang sekitar Rp7 ribu dari satu malam kegiatan. Di sisi lain, pemilik sound system dapat memperoleh pendapatan hingga belasan bahkan puluhan juta rupiah dalam satu kali tampil.
Temuan tersebut membuka persoalan yang lebih luas. Sound horeg bukan hanya tentang seberapa keras suara musik yang dihasilkan, tetapi juga tentang siapa yang paling banyak mendapatkan manfaat ekonomi dari sebuah pesta yang dibiayai secara kolektif oleh masyarakat.
Fenomena itu juga dapat dibaca melalui konsep collective effervescence yang diperkenalkan sosiolog Émile Durkheim. Ritual dan kegiatan bersama dapat menciptakan rasa menyatu di antara anggota masyarakat. Dalam suasana pesta, persoalan ekonomi dan tekanan kehidupan sehari-hari seolah dapat dilupakan untuk sementara.
Namun, di balik kesenangan tersebut, terdapat pertanyaan kritis yang tidak kalah penting: apakah hiburan bersama benar-benar memperkuat ekonomi masyarakat, atau justru menciptakan pola perputaran uang yang lebih banyak menguntungkan pihak tertentu?
Pemikiran James C. Scott mengenai infrapolitics juga dapat digunakan untuk membaca fenomena semacam ini. Ketika kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap kekuasaan dan ruang ekspresi tidak memiliki banyak saluran untuk menyampaikan keresahan, mereka dapat menemukan bentuk ekspresinya sendiri melalui aktivitas sehari-hari dan budaya populer.
Dalam konteks itu, suara sound horeg dapat dilihat bukan hanya sebagai suara musik, tetapi juga sebagai simbol ekspresi sosial masyarakat.
Karena itu, pertanyaan tentang fenomena sound horeg seharusnya tidak berhenti pada persoalan apakah suara tersebut boleh keras atau tidak. Ada pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa masyarakat membutuhkan ruang pelepasan dengan suara yang semakin keras di tengah tekanan ekonomi yang juga semakin berat?
Mungkin persoalannya bukan bahwa kemiskinan secara langsung membuat suara menjadi lebih keras. Bisa jadi, tekanan hidup yang semakin besar membuat kebutuhan untuk mencari hiburan, pelampiasan, pengakuan, dan rasa kebersamaan juga semakin kuat.
Pada akhirnya, sound horeg bukan sekadar persoalan suara. Di balik dentuman speaker, terdapat cerita tentang ekonomi, solidaritas, gengsi, hiburan, hingga cara masyarakat menghadapi tekanan kehidupan sehari-hari.






