
Buleleng,sekilasmedia.com-Aksi baku hantam antar dua remaja kembali viral di sosial media. Kali ini peristiwa itu terjadi di depan toko pakaian yang ada di Desa Patemon, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng Bali, pada Sabtu (7/5) lalu.
Dalam video berdurasi 21 detik yang beredar, tampak dua remaja berbaju hitam berkelahi. Bahkan seorang remaja yang mengenakan topi coklat memukul berkali kali bagian wajah dan kepala lawannya hingga tersungkur.
Meski disaksikan oleh sejumlah orang, namun bukannya membantu merelai malah justru asyik menyaksikan dan merekamnya hingga viral. Terdengar pula seorang wanita menjerit saat melihat perkelahian kedua remaja tersebut.
Terkait hal itu, Kades/Perbekel Patemon I Ketut Winaya dikonfirmasi Kamis (12/5/2022) membenarkan dengan aksi dua remaja yang terlibat perkelahian merupakan warganya. Dua remaja itu masing masing berinisial PE (14) dan GBT (17).
“Ya benar kemarin Rabu (11/5) kedua belah pihak sudah kami panggil, untuk mediasi,” ujarnya.
Menurut Winaya, perkelahian itu terjadi karena salah paham dan saling tersinggung. Yang mana awalnya tanpa disengaja PE dan GBT secara bersamaan datang ke toko pakaian. Keduanya datang ke toko dibarengi oleh rekan masing masing.
PE yang merasa emosi karena merasa dirinya hendak diserempet oleh GBT saat di jalan, langsung masuk ke dalam toko pakaian untuk membeli baju. Setelahnya membeli pakaian PE kembali ke parkiran. Namun tanpa dinyana di parkiran GBT juga merasa tersinggung lantaran dirinya di pandang sinis oleh PE.
Kemudian PE menanyakan asal GBT dengan bahasa yang dirasa cukup kasar, sehingga terjadilah cekcok yang berujung baku hantam.
“Motifnya salah paham, PE sempat bertanya kepada GBT dengan bahasa ‘uling ije ci’ (dari mana kamu). GBT akhirnya tersinggung hingga terjadi lah perkelahian itu,” imbuh Winaya.
Saat berkelahi, PE terpeleset dan jatuh, sehingga GBT memukulnya secara bertubi tubi seperti yang ada di dalam video.
“Kemarin polisi juga sempat minta keterangan. Dan hari ini kami pertemukan lagi. Tapi namanya anak anak emosinya masih belum terkendali. Kami pihak desa akan membina mereka, terutama dari sesi etika agar tidak mengulangi lagi,” tandasnya. SN.








