Mojokerto,Sekilasmedia.com-Di tangan Nasta, seorang engineer lingkungan yang juga menekuni dunia desain, baginya pakaian bukan sekadar gaya hidup, tetapi sebuah tanggung jawab moral. Berlokasi di Pandantoyo, Desa Pandankrajan, Kecamatan Kemlagi, Nasta mendirikan Ulur Wiji, sebuah brand eco-fashion yang membawa filosofi mendalam “Ulur” (menanam) dan “Wiji” (benih). Baginya, bisnis ini adalah upaya menanam benih kebaikan bagi bumi.
Lahir dari keresahan seorang lulusan Teknik Lingkungan yang melihat limbah tekstil sebagai ancaman, Nasta melakukan riset di Bekasi sebelum akhirnya meluncurkan produk pertamanya berupa scarf. Ulur Wiji juga menjadi ajang kampanye zero waste, mengajak masyarakat beralih ke gaya hidup yang tidak menyakiti lingkungan, mulai dari lemari pakaian hingga kebiasaan harian.
Ulur Wiji berusaha untuk tidak menyisakan sampah. Kain perca sisa produksi diolah kembali menjadi produk bernilai tinggi seperti dompet, bando, tas laptop, hingga boneka. Menurut Nasta, sisa kainnya sangat berharga karena menggunakan material berkualitas tinggi dengan pewarnaan alam.
Keunikan Ulur Wiji terletak pada perpaduan craftsmanship batik tulis warna alam dan ada juga teknik sashiko. “Kami tidak hanya mengangkat batik, tapi juga kerajinan tangan secara menyeluruh,” ungkap Nasta. Ketegasan prinsip lingkungan ini bahkan diterapkan kepada 12 karyawan jika mereka membeli makanan berbungkus plastik, sampahnya tidak boleh dibuang di tempat kerja.
Proses pewarnaan di Ulur Wiji sepenuhnya menggunakan bahan alami. Bu Rini selaku karyawan yang telah bergabung selama 5 tahun, menjelaskan bahwa warna merah dihasilkan dari kulit kayu mahoni, kuning dari jolawe, dan biru dari fermentasi indigofera yang dicampur dengan abu atau apu.
Karya Ulur Wiji semakin dikenal luas setelah dipakai oleh Angela Tanoesoedibjo, yang memicu lonjakan permintaan. Kini, pasarnya telah merambah hingga ke mancanegara. Berkat kemitraan dengan vendor dari Amerika Serikat, Kanada, dan Australia sejak 2021, pelanggan Ulur Wiji kini tersebar hingga ke Jepang maupun India. Di pasar domestik, Jakarta menjadi daerah dengan permintaan paling tinggi, termasuk pesanan rutin tahunan dalam jumlah besar dari Pertamina.
Ulur Wiji mengandalkan pemasaran digital melalui Instagram @ulurwiji dan berbagai marketplace. Meski tersedia di Shopee dan Blibli, penjualan tersibuk tercatat melalui Tokopedia (Ulur Wiji Official). Crop Top: Mulai dari Rp 400.000. Standar Blouse: Rp 500.000-Rp 600.000. Koleksi Premium: Di atas Rp 750.000





