Bondowoso,Sekilasmedia.com – Bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian yang diusung Presiden Amerika Serikat, Donald Trump di Davos, Swiss, Kamis (22/1) lalu, memicu beragam respons di sejumlah daerah, termasuk di Kabupaten Bondowoso.
Gabungan massa dari Ahlul Bait Indonesia (ABI) dan Komite Umat Islam Anti Amerika dan Israel (KUMAIL) menggelar aksi damai di depan Pendopo RBA Bondowoso, Jumat (13/2/2026). Aksi tersebut digelar sebagai bentuk penyampaian aspirasi terkait arah kebijakan luar negeri Indonesia dan sikap terhadap isu Palestina.
Ratusan peserta berjalan kaki sejauh kurang lebih empat kilometer mulai dari sekitar Jl. Wahid Hasyim hingga pendopo Bupati Bondowoso. Mereka membawa bendera Merah Putih serta bendera Palestina, disertai sejumlah poster bernada kritik terhadap Israel dan Amerika Serikat.
Beberapa poster yang tampak di antaranya bertuliskan “Israel Harus Dihapus Dari Peta Dunia”, “Enyahkan Penjajah Israel”, serta “Cukup Menjajah Manusia Untuk Membela Palestina”. Beberapa poster juga menampilkan foto Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran, Ayatollah Ali Khamenei
Sebelum menyampaikan orasi, massa terlebih dahulu menggelar pembacaan tawassul dan mengirimkan Surah Al-Fatihah kepada para ulama pendahulu sebagai simbol identitas dan penghormatan terhadap nilai-nilai keagamaan yang mereka anut.
Dalam orasinya, Koordinator Aksi Hasan Mustafa Haddar menyampaikan keberatan atas keputusan pemerintah bergabung dalam BoP. Ia mengaku khawatir langkah tersebut berimplikasi terhadap perjuangan rakyat Palestina.
“Kami merasa keberatan dengan masuknya Presiden dalam BoP. Kami khawatir kebijakan ini tidak mempertimbangkan secara mendalam aspek agama dan kemanusiaan, khususnya terkait Palestina,” ujarnya saat diwawancarai.
Ia juga mempertanyakan efektivitas misi perdamaian yang diusung BoP, mengingat rekam jejak kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dinilai selama ini berpihak kepada Israel.
“Saya yakin Presiden punya tujuan baik, mungkin ingin membantu kemerdekaan Palestina. Tapi apakah cara ini efektif? Itu yang kami ragukan,” tegasnya.
Selain isu internasional, Hasan menyinggung kondisi sosial di dalam negeri. Ia menilai pemerintah perlu berhati-hati agar kebijakan strategis tidak membebani rakyat.
“Kita masih punya persoalan di dalam negeri. Jangan sampai anggaran rakyat digunakan untuk sesuatu yang manfaatnya belum jelas,” katanya.
Di sela aksi, massa juga meneriakkan sejumlah slogan solidaritas, di antaranya “Hidup Islam, Hidup Indonesia, Mampus Israel, Hancur Amerika.” Meski demikian, aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan.
Para peserta aksi berharap konflik dan krisis kemanusiaan di Jalur Gaza segera berakhir serta Palestina dapat memperoleh kemerdekaannya. Aksi tersebut ditutup dengan iring-iringan lagu tentang Palestina dan anti terhadap Israel dan Amerika sebagai simbol amarah para demonstran.






