Asahan,Sekilasmedia.com-
Sebuah video keributan di SPPG Prapat Janji, Kecamatan Buntu Pane, Kabupaten Asahan, menyita perhatian publik usai viral di media sosial Facebook pada Sabtu (06/06/2026). Dalam rekaman tersebut, terlihat kerabat korban berusaha mencari pihak yang diduga telah menampar kakaknya. Sesampainya di area dapur yang tampak seperti hunian biasa, terjadi pertengkaran mulut hingga si perekam berulang kali meminta penjelasan, namun usahanya dihalau oleh tiga orang pria di depan ruangan yang tertulis “kantor”.
Selain kasus penganiayaan, pengunggah video bernama Haraa Saladd juga membongkar serangkaian praktik tidak wajar yang diduga berlangsung selama ini di tempat tersebut. Salah satu yang paling memberatkan adalah kebijakan pemotongan gaji yang dinilai sangat berat, yakni sebesar Rp 60.000 untuk keterlambatan masuk kerja hanya antara 5 hingga 15 menit. Belum lagi, disebutkan bahwa sejumlah staf penting seperti akuntan, asisten lapangan, dan petugas APPI kerap tidak berada di tempat saat jam kerja berlangsung.
Lingkungan kerja di sana pun disebut penuh tekanan. Pengunggah mengaku telah mendapatkan perlakuan buruk dan intimidasi sejak hari pertama mulai bekerja. Bahkan, ucapan yang merendahkan kerap dilontarkan, di mana akuntan di tempat tersebut diduga kerap menyebut para pekerja dengan sebutan “miskin” yang dianggap sangat menyakitkan hati. Setelah bertahan lama mendiamkan hal tersebut, para pekerja akhirnya memutuskan untuk bersuara karena merasa tindakan yang terjadi sudah melampaui batas kewajaran.
Masalah tak berhenti di situ. Isu serius muncul terkait kualitas Makanan Bergizi (MBG) yang disediakan, yang diduga menyebabkan gangguan kesehatan. Disebutkan bahwa setelah mengonsumsi menu telur orek pada hari Kamis, sejumlah penerima manfaat mulai dari anak-anak hingga orang tua mengalami sakit perut dan muntah. Bahkan ada pekerja yang juga merasakan hal serupa, namun diduga diminta untuk kompak menyatakan bahwa sakit yang dialami bukan disebabkan oleh makanan yang disajikan tersebut.
Kondisi semakin memprihatinkan karena SPPG tersebut disebut sudah tidak memiliki ahli gizi yang bertanggung jawab. Sejak Senin (01/06/2026), ahli gizi diketahui telah mengundurkan diri, namun pihak manajemen justru memberi alasan yang berbeda. Diduga menu yang telah disusun secara benar oleh ahli gizi kemudian diubah sepihak oleh akuntan dengan alasan penghematan anggaran, sehingga menghasilkan menu yang dianggap tidak layak dikonsumsi dan berisiko bagi kesehatan.
Postingan yang memuat semua pengakuan ini langsung menuai beragam reaksi tajam dari warganet hingga Minggu (07/06/2026). Banyak yang membenarkan keluhan tersebut, salah satunya menyatakan bahwa sejumlah warga memang berobat dengan keluhan serupa setelah mengonsumsi makanan dari tempat itu. Tak sedikit pula yang menyindir adanya praktik penyelewengan dana dan menyarankan agar kasus penamparan dan berbagai kejanggalan lainnya dilaporkan secara resmi agar mendapat penanganan hukum yang tegas.
Peristiwa ini bukan kali pertama SPPG Prapat Janji yang diduga dimiliki oleh seorang pengusaha keturunan dikenal sebagai Ahong dari Kisaran menuai kontroversi. Sebelumnya pada Februari 2026, tempat ini pernah menjadi sorotan karena ditemukan benda asing di dalam kemasan makanan yang akan dibagikan ke siswa sekolah. Meskipun sempat dibantah dan diklaim hanya benda biasa, kejadian tersebut kini semakin memperkuat dugaan publik bahwa terdapat masalah mendasar dalam pengelolaan operasional dan tanggung jawab di tempat tersebut.






