Daerah

Sapa Warga Berbasis Budaya: Sosialisasi dan Pertunjukan Festival Pencak Silat Tradisi Digelar di Purwakarta

×

Sapa Warga Berbasis Budaya: Sosialisasi dan Pertunjukan Festival Pencak Silat Tradisi Digelar di Purwakarta

Sebarkan artikel ini
Sosialisasi dan Pertunjukan Festival Pencak Silat Tradisional Digelar di Purwakarta (foto; Ade/Sekilasmedia.com)

 

PURWAKARTA, Sekilasmedia.com – Program Sapa Warga Berbasis Budaya dari DPRD Provinsi Jawa Barat yang dilaksanakan oleh Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Budiwanto, S.Si., M.Si., dalam rangka pelaksanaan tugas kegiatan Sapa Warga Berbasis Budaya, digelar di Kabupaten Purwakarta pada Minggu (14/6/2026) di Bale Maya Datar, Purwakarta dengan melibatkan para ketua perguruan pencak silat di bawah naungan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Purwakarta sebagai peserta dalam kegiatan tersebut.

Agenda ini menjadi langkah strategis dalam upaya pelestarian warisan budaya bangsa sekaligus menyeragamkan pemahaman terkait aturan penyelenggaraan festival pencak silat tradisi di wilayah Jawa Barat.

Kegiatan tersebut dihadiri unsur pemerintah daerah, anggota legislatif, pengurus IPSI tingkat kabupaten dan provinsi, para pendiri serta pelatih perguruan silat, serta para pesilat dari berbagai perguruan di Purwakarta. Sejak awal acara, suasana kental nuansa budaya terasa melalui alunan musik tradisional kendang yang mengiringi jalannya kegiatan.

Dalam sambutannya, Ketua Pengurus Cabang IPSI Kabupaten Purwakarta, Ir. H. Moh Arief Kurniawan, M.M., menegaskan bahwa pencak silat bukan hanya sekadar bela diri, tetapi juga sarana pembentukan karakter dan benteng budaya bangsa.

BACA JUGA :  Lapas Mojokerto Gelar Fun Walk Semarak, Tumbuhkan Kebersamaan di Momen HUT ke-80 RI

“Insan pencak silat harus memiliki kendali emosi yang lebih baik dibandingkan pemuda pada umumnya serta menjunjung tinggi tata krama. Di tengah derasnya arus budaya asing yang masuk tanpa penyaringan, pencak silat menjadi benteng pertahanan budaya Indonesia yang kuat, berwibawa, namun tetap berjiwa seni dan halus,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya etika seorang pendekar yang mengedepankan sikap menghindari konflik, namun tetap siap menjaga kehormatan diri, keluarga, hingga bangsa dan negara. IPSI, lanjutnya, terus berupaya mengembalikan pencak silat ke khittah aslinya sebagai seni, budaya, dan warisan leluhur.

Mewakili Bupati Purwakarta, Sekretaris Daerah Kabupaten Purwakarta, Ir. Sri Jaya Midan, M.P., menyampaikan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap penguatan pencak silat sebagai bagian dari program Pancawaluya bagi generasi muda.

“Kami berharap seluruh perguruan dan pelatih dapat memahami serta menerapkan aturan festival dengan baik, agar pembinaan semakin berkualitas dan mampu memperkuat persatuan antarperguruan. Ilmu pencak silat hendaknya diwariskan secara utuh kepada generasi penerus agar tidak hilang oleh waktu,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa pencak silat memiliki sejarah panjang dalam perjuangan bangsa sekaligus berperan penting dalam membentuk generasi yang sehat jasmani dan rohani, berkarakter, serta berbudaya.

BACA JUGA :  Polres Pasuruan Suplai Air Bersih Untuk Warga Terdampak Kekeringan

Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, H. Budiwanto, S.Si., M.Si., menilai kegiatan ini relevan di tengah tantangan degradasi nilai serta keterbatasan anggaran pembangunan daerah. Menurutnya, keberhasilan pelestarian budaya membutuhkan kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, lembaga, dan masyarakat.

“Jika menginginkan hasil yang berbeda, maka tidak bisa lagi menggunakan cara lama. Kolaborasi adalah kunci utama,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi kegiatan tersebut yang telah memasuki pelaksanaan ketujuh di Jawa Barat, serta menilai pencak silat sebagai sarana efektif pendidikan karakter yang membentuk jiwa kesatria, disiplin, dan cinta tanah air.

Melalui sosialisasi aturan dan pertunjukan langsung, kegiatan ini diharapkan dapat menyamakan standar penyelenggaraan festival pencak silat tradisi, sekaligus memperkaya wawasan pelatih dan peserta mengenai ragam bentuk pertunjukan, mulai dari perorangan, berpasangan, berkelompok, hingga seni bercerita.

Secara lebih luas, Sapa Warga Berbasis Budaya menjadi upaya pembinaan generasi muda yang menyelaraskan aspek fisik, mental, dan budaya, sekaligus memperkuat posisi pencak silat sebagai warisan budaya takbenda yang diakui secara nasional maupun internasional.
Semua pihak berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga pencak silat tetap menjadi benteng budaya sekaligus sarana pembentukan karakter generasi bangsa.