Daerah

Hadiri Festival Mbois 11, Menekraf Dorong Malang Perluas Ruang Ekonomi Kreatif

×

Hadiri Festival Mbois 11, Menekraf Dorong Malang Perluas Ruang Ekonomi Kreatif

Sebarkan artikel ini
Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya saat menghadiri Festival Mbois ke-11 Malang Menyala di Stadion Gajayana, Kota Malang (foto Basuki).

Malang,Sekilasmedia.com-Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya mendorong Kota Malang terus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif dengan mengoptimalkan berbagai ruang publik, termasuk fasilitas olahraga.

Salah satu yang dinilai memiliki potensi besar adalah Stadion Gajayana. Menurut Teuku Riefky, stadion tersebut tidak hanya dapat digunakan untuk kegiatan olahraga, tetapi juga diaktivasi sebagai ruang kreatif sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

Hal itu disampaikan Teuku Riefky saat menghadiri Festival Mbois ke-11 Malang Menyala di Stadion Gajayana, Kota Malang, Sabtu (22/8/2026).

Ia mengapresiasi konsistensi penyelenggaraan Festival Mbois yang dinilainya menjadi bagian penting dalam mengaktivasi Kota Malang sebagai Kota Media Art dalam jaringan UNESCO Creative Cities Network.

“Festival Mbois ke-11 Malang Menyala ini salah satu kegiatan untuk terus mengaktivasi Kota Malang sebagai Kota Media Art UNESCO,” ujarnya.

Menurutnya, status sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network bukanlah tujuan akhir, melainkan titik awal untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang semakin kuat dan berkelanjutan.

Karena itu, berbagai kegiatan kreatif di Kota Malang perlu terus digelar dan dikembangkan. Terlebih, Kota Malang memiliki modal besar berupa talenta kreatif yang didukung akademisi, pemerintah daerah, komunitas hingga media.

Namun, Teuku Riefky mengingatkan agar geliat kreativitas tersebut tidak berhenti pada aktivitas budaya dan hiburan semata. Ekonomi kreatif harus mampu memberikan dampak nyata terhadap perekonomian daerah.

BACA JUGA :  Babinsa Jatirowo Lakukan Pendampingan Penyemprotan Tanaman Padi

“Yang paling penting adalah bagaimana ini juga memberikan dampak ekonomi, dampak terhadap PDRB daerah, kesejahteraan para pegiat ekonomi kreatif, dan dampak terhadap lapangan pekerjaan,” katanya.

Teuku Riefky juga mengapresiasi keberadaan Malang Creative Center (MCC) yang selama ini menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi kreatif di Kota Malang.
Menurutnya, berbagai program yang rutin digelar di MCC menunjukkan besarnya potensi kreativitas masyarakat Malang.

Namun, ia menegaskan ruang kreatif tidak harus selalu berbentuk gedung khusus. Berbagai fasilitas publik, termasuk sarana olahraga dan ruang terbuka hijau, dapat dioptimalkan untuk mendukung aktivitas ekonomi kreatif.

“Ini luar biasa dan bisa menjadi contoh daerah-daerah lain. Kita jangan terhambat karena ruang kreatif. Ruang kreatif bisa menggunakan fasilitas gedung olahraga seperti ini, ruang terbuka hijau juga banyak yang bisa diaktivasi,” tuturnya.

Konsep tersebut, lanjut Teuku Riefky, dapat memperluas ruang interaksi bagi komunitas kreatif sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Pengembangan ekonomi kreatif juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah pusat dan daerah, komunitas, asosiasi, media, dunia usaha, akademisi hingga lembaga keuangan dinilai harus bergerak bersama.

Teuku Riefky juga menilai kekuatan ekonomi kreatif Indonesia tidak terlepas dari akar budaya dan kearifan lokal yang dimiliki setiap daerah.

Ketika kekayaan tersebut dipadukan dengan inovasi, kreativitas dan teknologi, potensi ekonomi yang dihasilkan akan semakin besar.

“Ketika akar budaya yang kuat di berbagai daerah dengan kearifan lokalnya disentuh dengan inovasi, kreativitas dan teknologi, itu akan memberikan nilai tambah dan dampak ekonomi kepada masyarakat,” jelasnya.

BACA JUGA :  Pemkab Probolinggo Tracking Tenaga Medis RSUD Waluyo Jati Dan Puskesmas Tongas

Lebih jauh, Teuku Riefky menyebut sektor ekonomi kreatif memiliki peluang besar untuk membantu menekan angka pengangguran, terutama di kalangan generasi muda.

Ia menyebut jumlah pekerja ekonomi kreatif saat ini mencapai sekitar 27,4 juta orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 63 persen merupakan generasi Z dan milenial, sedangkan 58 persen di antaranya adalah perempuan.

Menurutnya, angka tersebut menunjukkan bahwa ekonomi kreatif memiliki karakter yang inklusif dan mampu membuka ruang kerja bagi generasi muda sekaligus perempuan.

Di sisi lain, dari sekitar 7,5 juta pengangguran terbuka di Indonesia, 82 persen di antaranya berasal dari kelompok Gen Z dan milenial.

“Kalau lapangan pekerjaan yang diminati Gen Z dan milenial adalah sektor ekonomi kreatif, sementara pengangguran mayoritas juga Gen Z dan milenial, sebetulnya sektor ekonomi kreatif ini dapat menurunkan angka pengangguran terbuka di seluruh daerah,” katanya.

Karena itu, penguatan ekosistem ekonomi kreatif dinilai tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan agar potensi tersebut benar-benar menghasilkan dampak ekonomi.

“Perlu dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas, asosiasi, media, bisnis, akademisi dan lembaga keuangan,” pungkasnya.

Dengan mengoptimalkan ruang publik seperti Stadion Gajayana, Kota Malang dinilai memiliki peluang memperluas ekosistem kreatif sekaligus menjadikan kreativitas sebagai kekuatan ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.