Investigasi

Nelayan Warnasari Soriti Pengurukan Sungai Loloan Selok

×

Nelayan Warnasari Soriti Pengurukan Sungai Loloan Selok

Sebarkan artikel ini

Badung Bali,Sekilasmedia.com-
Kelompok Nelayan Warnasari Tuban, Kabupaten Badung, soroti proyek penataan di ujung muara Tukad Mati. Mereka protes terkait pengurukan tukad (sungai) Loloan Selok yang ada di ujung muara Teluk Benoa. Karena bagi nelayan tempat itu merupakan kawasan vital sebagai jalur perahu saat air surut.

Protes nelayan ini disampaikan Ketua Kelompok Nelayan Wansari Tuban, Made Sumasa, setelah sempat turun mengecek langsung ke lokasi.

” Dulu kedalaman loloan itu di atas delapan meter, sekarang hanya sekitar satu meteran. Saya lihat di sana ada material yang menumpuk, ada sekitar dua mingguan. Penimbunan itu membuat alur mendangkal, ” kesal Sumase, Jumat (24/8).

BACA JUGA :  Buang Lele Ke Sungai, Bocah 6 Tahun di Denpasar Ditemukan Meninggal Dunia 

Kekhawatiran itu sangat dirasakan oleh sejumlah nelayan, jika kegiatan pengurukan terus dilakukan, tidak menutup kemungkinan tukad Loloan Selok arah alur muara Tukad Mati ini akan lenyap. Alasannya, selain diuruk menggunakan material limestone, kegiatannya berkaitan dengan proyek lanjutan penataan long storage muara Tukad Mati.

 ” Loloan itu fungsinya sangat vital, sebab itu adalah jalur lalu lintas laut ketika air laut surut. Saat ini loloan tersebut mudah dilewati hanya pada saat air pasang, “ungkapnya.

Selain sedimentasi makin tinggi, dampak lain yang dikeluhkan adalah proyek long storage, dimana kegiatan tersebut membuat sampah leluasa masuk ke Teluk Benoa.

BACA JUGA :  DI JAM ANAK SEKOLAH PENGEMUDI TRUCK TIDAK PATUHI RAMBU - RAMBU

” Kami di sini tidak tahu bakal jadi seperti apa nantinya. Dulu memang sempat ada sosialisasi sekali di Kuta, tapi tidak ada penjelasan semacam ini. Sebab ini sudah menyentuh wilayah perairan Tuban dan mata pencaharian kami selaku nelayan, ” keluhnya.

Ia juga menyayangkan, berlangsungnya pengerjaan proyek ada beberapa pohon mangrove yang ditebang. Padahal hutan sudah lebat dan  hijau. Ia pun berharap agar pihak terkait sosialisasi kembali ke masyarakat khususnya warnasari.

” Kami kurang mengerti kenapa hal itu  dilakukan. Apa sudah koordinasi dengan UPT Tahura Ngurah Rai. Kami harap ada sosialisasi khusus ke warga nelayan di sini, karena kamilah yang merasakan dampaknya, ” tandasnya.(soni)