Mojokerto,Sekilasmedia.com — Dugaan penyebab keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar, santri, dan warga di Kabupaten Mojokerto akhirnya mengerucut.
Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) berupa soto ayam diduga tercemar akibat penggunaan telur ayam rebus yang telah basi.
Akibat kejadian ini, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) penyedia MBG ditutup sementara sambil menunggu hasil investigasi Badan Gizi Nasional (BGN).
Penutupan sementara SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 yang berlokasi di Pondok Pesantren Al Hidayah, Dusun Rejeni, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, diputuskan dalam rapat gabungan lintas instansi di Kantor Bupati Mojokerto, Kamis (15/1/2026) malam.
Komandan Kodim 0815 Mojokerto, Letkol Inf Abi Swanjoyo, menegaskan bahwa langkah penutupan ini merupakan rekomendasi tim investigasi sebagai bentuk evaluasi menyeluruh terhadap operasional dapur MBG.
“SPPG akan ditutup sementara untuk dilakukan evaluasi. Ini merupakan hasil diskusi bersama tim investigasi,” ujar Abi usai rapat.
Keracunan massal tersebut terjadi setelah para pelajar dan santri mengonsumsi MBG menu soto ayam yang dibagikan pada Jumat (9/1/2026) pagi hingga menjelang Salat Jumat. Dapur MBG tersebut setiap harinya menyiapkan sebanyak 2.679 porsi makanan yang didistribusikan ke 22 sekolah dan pondok pesantren di wilayah Kecamatan Kutorejo dan Mojosari.
Abi menekankan, program MBG merupakan agenda strategis nasional yang harus dijaga kualitas dan keamanannya. Oleh karena itu, seluruh pemangku kepentingan di Mojokerto bersepakat memperketat pengawasan agar insiden serupa tidak terulang.
“Program MBG ini menyangkut masa depan anak-anak dan bangsa. Pengawasan ke depan harus lebih ketat,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Regional BGN Jawa Timur, Mahda Pradewa, menyampaikan bahwa tidak ada batas waktu pasti terkait penutupan SPPG tersebut. Keputusan operasional selanjutnya sepenuhnya berada di tangan BGN pusat berdasarkan hasil investigasi.
“Nanti BGN pusat yang akan menentukan apakah dapur ini bisa beroperasi kembali atau ditutup permanen,” katanya.
Data resmi Pemerintah Kabupaten Mojokerto mencatat jumlah korban keracunan mencapai 411 orang. Gejala mulai muncul pada Jumat malam hingga Sabtu (10/1/2026) pagi, berupa pusing, mual, muntah, demam, dan diare. Hingga Kamis malam, tersisa dua korban yang masih menjalani perawatan inap.
Hasil investigasi sementara mengungkap bahwa telur ayam rebus yang menjadi salah satu komponen soto ayam direbus oleh pihak ketiga pada Rabu (7/1/2026) malam.
Telur tersebut kemudian dikirim ke dapur SPPG pada Kamis (8/1/2026) sore sebelum akhirnya diolah dan didistribusikan ke sekolah serta pondok pesantren keesokan harinya.
Diduga kuat telur tersebut sudah tidak layak konsumsi saat disajikan, sehingga memicu keracunan massal. Tidak seluruh penerima MBG langsung mengonsumsi makanan tersebut secara bersamaan.
Namun, tim investigasi menemukan jumlah korban terbanyak berasal dari Pondok Pesantren Mahad An Nur dan Pondok Pesantren Al Hidayah, yang menyantap makanan sekitar pukul 12.30 WIB atau setelah Salat Jumat.
Untuk memastikan penyebab pasti, tim gabungan telah mengirim sampel makanan dan muntahan korban ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kabupaten Mojokerto.
Hasil uji laboratorium tersebut dibahas secara tertutup dalam rapat yang melibatkan Kodim 0815, BPOM, Polres Mojokerto, Sekda, Dinas Kesehatan, BGN, Labkesda, serta para ahli gizi.
Investigasi masih terus berlanjut guna memastikan tanggung jawab dan mencegah kejadian serupa di masa mendatang.





