Mojokerto,Sekilasmedia.com-Di sudut Kota Mojokerto, tepatnya di Jl. Balongrawe Baru III, Mergelo, Kecamatan Magersari, terdapat denyut sejarah Majapahit kembali berdetak. Pak Herman, seorang seniman sekaligus peneliti, mendirikan Sanggar Wayang Beber Panji Cemeng sebagai bentuk pengabdian luar biasa untuk menghidupkan kembali seni yang hampir terlupakan.
Sebelum resmi untuk dipentaskan pada tahun 2019, Pak Herman menghabiskan waktu tiga tahun (2016–2019) untuk melakukan penelitian mandiri. Berkelana dari candi ke candi, membedah relief khas Majapahit, hingga menyusun naskah dan melukis sendiri kain wayangnya.
Penelitian Pak Herman didasari oleh fakta sejarah yang kuat. Merujuk pada catatan Ma Huan selaku (juru tulis Laksamana Cheng Ho) saat berkunjung ke Majapahit, disebutkan adanya tradisi bercerita melalui gambar pada malam purnama. “Wayang beber ini sebenarnya lebih tua dari wayang kulit. Adanya peninggalan di Pacitan dan Gunung Kidul,” jelas Pak Herman.
Hal inilah yang memicu rasa memiliki yang tinggi dalam dirinya. Pak Herman merasa bertanggung jawab memperkenalkan kembali jati diri budaya ini kepada masyarakat yang selama ini lebih mengenal wayang kulit.
Bagi Pak Herman, mementaskan wayang beber adalah panggilan jiwa, bukan sekadar mencari nafkah. Sejak 2019, sudah aktif berkeliling kampung tanpa menunggu panggilan (job). “Dibayar atau tidak bukan urusan, yang penting wayang ini harus tampil dan dikenal masyarakat,” tegasnya. Sanggar ini berdiri murni di atas semangat kolektif para pemain, tanpa ketergantungan pada uang tanggapan.
Untuk menjaga keberlangsungan seni ini, Pak Herman melakukan inovasi besar. Jika awalnya dipentaskan oleh orang dewasa, kini ia melibatkan anak-anak sebagai pemeran. Tujuannya jelas, agar filosofi dan kebudayaan wayang beber tertanam kuat dalam ingatan mereka sejak dini hingga masa depan.
Wayang beber sendiri memiliki bentuk yang unik, yakni berupa lukisan cerita yang dibentangkan di atas kain. Setiap episode biasanya memakan kain sepanjang satu meter dan jika satu cerita terdiri dari tujuh episode, maka panjang kain mencapai tujuh meter. Hingga kini, Pak Herman telah menciptakan sekitar 6 hingga 7 karya bertema cerita rakyat (folklore).
Harapan terbesar Pak Herman kedepannya yaitu dengan program rutin setiap bulan masuk ke kampung-kampung agar masyarakat sadar bahwa kekayaan budaya mereka sangatlah luas. Sanggar Panji Cemeng membuktikan bahwa keterbatasan dana bukanlah penghalang bagi semangat pelestarian budaya.