Semarang,Sekilasmedia.com-Musyawarah Nasional (Munas) Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) yang digelar pada 27 Juli –1 Agustus 2026 di Kampus Politeknik Negeri Semarang (Polines) menetapkan Andira Yofi Sulendra, mahasiswa Institut Teknologi PLN (IT-PLN), sebagai Koordinator Pusat BEM SI periode 2026–2027.
Munas diikuti sekitar 150 kampus yang tergabung dalam aliansi BEM SI. Proses persidangan dipimpin oleh tiga pimpinan sidang, yakni Shabbarin Syakur sebagai pimpinan sidang pertama, Gufron Alsafi’i sebagai pimpinan sidang kedua, dan Adelia Afiffatuzzahra sebagai pimpinan sidang ketiga.
Dalam proses pemilihan, terdapat tiga kandidat yang berasal dari tiga perguruan tinggi, yakni Universitas Lampung, Universitas Riau, dan Institut Teknologi PLN. Setelah melalui mekanisme musyawarah dan pemungutan suara, Andira Yofi Sulendra memperoleh suara terbanyak dan dipercaya memimpin koordinasi BEM SI untuk periode 2026–2027.
Usai menerima mandat, Yofi berkata dalam sambutannya, bahwa penguatan konsolidasi wilayah akan menjadi salah satu prioritas utama dalam kepemimpinannya. Ia menilai, kekuatan BEM SI tidak hanya ditentukan oleh solidnya koordinasi di tingkat pusat, tetapi juga oleh kemampuan membangun komunikasi dan jejaring yang kuat hingga ke berbagai daerah.
“Kita akan memperkuat konsolidasi wilayah. BEM SI tidak boleh hanya kuat di pusat, tetapi harus hadir dan dirasakan sampai ke daerah. Komunikasi antarkampus harus kita bangun lebih intensif agar setiap persoalan dan aspirasi mahasiswa dari berbagai wilayah dapat terhubung dan menjadi bagian dari agenda bersama,” ujar Yofi.
Menurutnya, setiap wilayah memiliki karakteristik, persoalan, dan dinamika yang berbeda. Karena itu, keberagaman tersebut harus menjadi kekuatan bersama yang dipersatukan melalui komunikasi dan konsolidasi yang berkelanjutan.
“Kita ingin tidak ada jarak antara pusat dan wilayah. Semua kampus harus memiliki ruang yang sama untuk menyampaikan gagasan, persoalan, dan aspirasi. Dari situlah kita membangun gerakan mahasiswa yang lebih solid, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat,” tegasnya.
Selain konsolidasi organisasi, Yofi juga menyampaikan komitmennya untuk mengembalikan eksistensi gerakan mahasiswa sebagai kekuatan intelektual dan sosial yang memiliki peran nyata dalam kehidupan berbangsa.
“Gerakan mahasiswa harus kembali eksis. Kita ingin mahasiswa hadir dengan kajian yang kuat, sikap yang kritis, dan gagasan yang konstruktif. Kritik tetap penting, tetapi harus disertai data, argumentasi, dan solusi,” katanya.
Yofi juga mendorong BEM SI agar tidak hanya dikenal sebagai wadah penyampaian kritik, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan dan melahirkan solusi atas berbagai persoalan kebangsaan.
“Kita ingin BEM SI bukan hanya dikenal karena kritiknya, tetapi juga karena gagasan dan kontribusinya. Mahasiswa harus mampu menjadi bagian dari solusi bagi persoalan bangsa,” ujarnya.
Ia menegaskan, mandat yang diterimanya merupakan amanah bersama yang harus dijalankan dengan melibatkan seluruh elemen BEM SI. Karena itu, hasil Munas tidak boleh berhenti sebagai proses pergantian kepemimpinan, tetapi harus menjadi titik awal untuk memperkuat kerja bersama di seluruh wilayah Indonesia.
“Munas ini bukan akhir, tetapi awal dari kerja besar kita bersama. Mari kita kuatkan persatuan, bangun komunikasi antara pusat dan wilayah, dan kembalikan BEM SI sebagai rumah bersama bagi gerakan mahasiswa Indonesia,” pungkas Yofi.






