Mojokerto,Sekilasmedia.com-Setiap sore sebelum waktu berbuka, suasana Pasar Sawahan di Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, berubah menjadi tempat makan takjil yang ramai dan penuh semangat.
Fenomena ini menunjukkan adanya perpindahan menarik dari pasar tradisional yang biasanya dikaitkan dengan menjual sayuran mentah, kini beralih ke pasar modern yang menawarkan berbagai pilihan menu berbuka yang siap disantap.
Banyak pedagang kaki lima tertarik untuk memanfaatkan momen Ramadhan dengan berjualan di tempat kosong hingga di pinggir jalan. Para pedagang yang hadir bukan hanya dari warga sekitar Bangsal saja, tetapi juga banyak yang datang dari daerah lain hanya untuk mengambil kesempatan berjualan di tempat yang strategis ini.
Salah satu pedagang yang merasakan dampak positif adalah Ahmad, seorang penjual pentol yang sengaja datang dari luar wilayah Bangsal untuk menjual dagangannya. “Antusiasme pembeli di sini sangat luar biasa setiap sore,” ujarnya.
Meskipun saya menjual dagangan di pinggir jalan menggunakan rombong diatas motor, omzetnya meningkat berkali-kali lipat dibanding hari biasa, karena Pasar Sawahan kini menjadi tempat berkumpul warga untuk mencari camilan buka puasa,” kata Ahmad sambil sibuk melayani pembeli.
Berbagai jenis makanan, mulai dari pentol hingga makanan berat, terus hadir di pasar ini, sehingga selalu ramai dikunjungi warga yang ingin membeli takjil dengan mudah.
Kondisi ini diapresiasi oleh para pengunjung karena mereka merasa lebih nyaman karena semua pilihan menu tersedia di satu tempat yang sama.
Santi, salah satu pengunjung, mengatakan dia sangat terbantu dengan perubahan konsep pasar ini. “Dulu kalau ke Pasar Sawahan, ya niatnya hanya belanja sayur untuk dimasak besok pagi. Tapi sekarang saat sore hari sudah seperti perayaan makanan lezat. Pilihan banyak dan harganya murah, jadi saya sering mampir ke sini setelah pulang kerja untuk membeli lauk atau sekadar beli takjil untuk keluarga di rumah,” kata dia.
Transformasi Pasar Sawahan tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat, tetapi juga menunjukkan bagaimana pasar tradisional bisa beradaptasi secara dinamis menghadapi kebutuhan masyarakat modern, terutama selama bulan suci Ramadan.






