Purwakarta, Sekilasmedia.com — Lonjakan pendaftar di jenjang SMA negeri di Kecamatan Purwakarta membuat banyak siswa harus mencari alternatif sekolah lain. Dari ribuan lulusan SMP yang mendaftar, hanya sebagian yang tertampung di SMA Negeri 1, 2, dan 3 karena keterbatasan daya tampung.
Hal itu disampaikan oleh Asep Sundu Mulyana, S.Pd., M.Pd., Kepala SMAN 3 Purwakarta sekaligus Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kabupaten Purwakarta, dalam wawancara langsung pada Rabu (9/7/2025).
“Tidak ada masalah dengan kualitas anak-anaknya. Hanya saja kapasitas sekolah negeri sangat terbatas. Di SMAN 3 sendiri, jumlah pendaftar jauh melebihi kuota yang tersedia,” ujarnya.
Asep menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu berkecil hati jika belum diterima di sekolah negeri. Ia mengajak orang tua untuk tetap menyekolahkan anak ke sekolah lain, baik negeri maupun swasta.
“Sekolah bukan soal label negeri atau swasta. Yang penting anak tetap sekolah, semangat belajarnya tidak padam. Banyak sekolah swasta yang berkualitas dan siap menampung siswa,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa kesempatan masuk SMA negeri tetap terbuka di kemudian hari. Di SMAN 3, saat ini terdapat tujuh kursi kosong karena siswa pindah akibat mutasi orang tua ke luar kota.
“Setiap tahun pasti ada yang pindah. Itu bisa menjadi peluang bagi siswa lain untuk masuk lewat jalur mutasi atau pindahan,” jelasnya.
Sebagai Ketua MKKS, Asep mendorong kerja sama lintas sektor untuk mengatasi keterbatasan daya tampung, seperti penambahan rombongan belajar (rombel), pembangunan unit sekolah baru (USB), serta optimalisasi sekolah swasta yang ada di wilayah kota.
Langkah ini juga mendukung Program Pencegahan Anak Putus Sekolah (PAPS) dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yang menargetkan penuntasan 66.193 anak putus sekolah hingga akhir 2025.
“Kami semua di MKKS berkomitmen agar tidak ada anak yang terputus pendidikannya. Negeri atau swasta, tujuannya sama: mencerdaskan anak bangsa,” pungkasnya.






